Copyright © SA's World
Design by Dzignine
Tampilkan postingan dengan label My Stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Stories. Tampilkan semua postingan
Senin, 24 Maret 2014

...

Bahkan sampai detik ini aku menulis di blog ini, sampai detik ini pula pikiranku tak pernah kembali ke arah asalnya. Ini kah yang mereka namakan "Keputusasaan"? Mereka berkata ketika kita tak memiliki alasan lagi untuk tetap bertahan dengan apa yang kita percayai awalnya, maka kau berada dalam lingkaran keputusasaan. Tapi, sampai detik ini aku tak pernah sadar keputusasaan itu sebenarnya berwujud apa?

Secara dramatis, beberapa film bahkan hampir semua film yang menceritakan keputusasaan itu berakhir dengan tragedi, skandal, atau bahkan lebih berakhirnya kehidupan seseorang. Aku tau itu terlalu mengerikan untuk bahkan sekadar kita bayangkan, tapi mengapa semua itu justru terlintas ketika saat ini, saat ketika aku merasa semua itu tak pernah ada harapan. Aku ingat betapa aku tampil dengan percaya diri mengumbar kalimat-kalimat itu dengan berapi-api, tapi sekarang? Aku justru lebih memilih laptop dan mulai menulis posting-an ini dengan perasaan campur aduk seperti ini.

Sekadar hanya untuk memberitahu kalian saja, siapapun yang sedang membaca posting-an ini, jika AKU BENAR-BENAR SENDIRIAN. Aku butuh, entah mungkin sesuatu/seseorang secara nyata, teman cerhat, mungkin, aku tidak terlalu yakin. Selama ini aku nyaman dengan duniaku sendiri. Dunia yang kubuat dengan rasa dan pemikiran aku sendiri. Semua tentang AKU.

Jumat, 03 Januari 2014

Setelah Dua Tahun Kepergianmu

Tepat hari ini..
Setelah dua tahun kepergianmu..
Aku membisu, rasanya tak ada lagi rasa yang sanggup ku ucap yang biasa ku tuang dalam tiap lembar kertas putih dan berdoaagar kelak Tuhan mengabulkan mimpi cinta ku.  Aku tak tau apalagi merasakan tiap rasa khawatirmu, resahmu, gundahmu, bahkan tawamu, ceriamu, juga bahkan rintahan tangismu yang ku anggap begitu tulus. Itu dulu, dua tahun yang lalu.

Setelah dua tahun kepergianmu..
Aku tetap menunggu, tetap menanti, tetap mencinta, tetap menelan rindu itu, tetap menjaga rasa, tetap mengabadikan cinta hanya untukmu. Karena berkah yang Tuhan berikan niscaya kau kembali padaku. Aku melangkah kemanapun, tetap kau terus mengikuti, maaf mungkin bukan kau, tapi sekadar bayangmu..

Setelah dua tahun kepergianmu..
Terasa sekali perbedaannya, hariku kembali membeku. Hariku kembali menguncup. Hariku gagal merekah. Hariku menatap nanar tiap hati yang berseliweran. Hariku bertanya tetap dengan kata "mengapa". Hariku tak mampu bangun. Hariku yang berselimut pekat kabut hitam. Hariku keabu-abuan, tak jelas arahnya.

Setelah dua tahun kepergianmu..
Persetan apa lagi yang ku buat. Menatapmu kembali. Merogoh hati terdalamku, barangkali aku menemukan sesuatu yang mampu mengembalikanmu padaku. Mencoba membaca isi hatimu. Mungkin ada satu alasan yang bisa ku gunakan untuk menyeretmu kembali ke kebahagiaanku yang dulu. Persetan apa lagi yang ku buat. Memaksamu kembali, berjanji untuk berubah menjadi yang kau inginkan dan merelakan diriku sendiri hilang demi cintamu. Persetan apa lagi yang ku buat. Aku memujamu. Seperti lirik lagu, "Di atas hatiku ku tinggikanmu, di atas hatimu kau rendahkanku". Betapa aku mencintaimu sebagai cinta pertama yang terlalu abadi untuk aku ingat. Persetan apa lagi. Hubungan yang bahkan tak sampai 100 hari dan parah, hingga saat ini bahkan aku masih terngiang rasa hadirmu dekatku.

Minggu, 30 Juni 2013

Mencintaimu

Andai yang kau cari itu aku. Andai yang kau butuhkan itu aku. Aku tak tau apakah detik ini rasamu tetap sama seperti dulu. Apakah cinta mu tetap menanti rasa ku yang belum berani menampakkan dirinya? Kau tau betapa aku mencintaimu. Bahkan aku benar-benar menyayangimu lebih dari sekedar menganggap kelebihanmu sebagai anugerah Tuhan dan kekuranganmu merupakan kelebihan yang mampu melengkapi ku. AKU MENCINTAIMU. Sekali lagi, malam ini, saat aku menulis sebuah postingan yang tak jelas dalam blog pribadi ku, aku tau betapa aku merindukan kehadiranmu, dulu.

Aku tak pernah kehabisan akal untuk terus mencari titik temu antara egomu dan egoku. Tapi entah mengapa, kau menyerah, sepertinya. Aku tak pernah menyerah dengan apa yang telah terjadi. Aku tau perasaan ku padamu tak pernah terganti oleh rasa apapun yang pernah ku hinggapi. Aku tau beberapa ketertarikan ku pada yang lain hanya buaian mimpi yang sekejap. Tapi kau, mampu membuatku bahkan bertahan di tengah rasa kegelisahan hatiku.

Jumat, 04 Januari 2013

Hingga Batas Fana dan Abadi

Bisakah aku meminta tolong padamu? Tolong kau pinjamkan ku lampu hatimu, agar ku bisa terus berjalan dalam terowongan sepi dalam pikiranku. Coba kau tebak? Apa aku selama ini? Sejak kau pergi, membiarkan luka itu menganga dalam penantiannya. Aku mencoba mengartikan tiap kata dari mulutmu. Tapi gagal. Aku bahkan tak mengerti sedikit pun apa yang kau maksud dengan 'Tidak Berharga'. Aku lebih memilih bungkam. Aku tak mau kau berkata lebih dari itu. Aku tak mau ada kalimat yang nantinya ku sesali.

Sayang sekali. Sayang sangat, Sayang. Apa yang ku pikirkan tentang mu terlalu berlebihan. Apa yang ku harapkan akan dirimu terlalu besar. Apa yang aku rasakan padamu terlalu dalam. Apa yang aku berikan padamu terlalu banyak. Hingga kini aku miskin. Miskin Rasa. Aku tak kenal sedikit pun tentang cinta yang kau ceritakan indah itu. Aku terlalu. AKU TERLALU. Aku terlalu menghidupkanmu di setiap aliran darahku, desahan nafasku bahkan membiarkanmu menuntun tiap langkahku.
Minggu, 16 Desember 2012

Segenggam Rasa

*Semangat Sintya... Semangat..!* Ku ulangi beberapa kali perintah yang ku ajukan sendiri kepada diriku agar tetap bisa berjalan. Setelah bunga cinta itu menguncup kembali, setelah tersadar aku dari setiap deras air mata yang menghujani ku. Air mata... *Ya, Tuhan... Tak cukupkah Kau buat aku menangis tanpa henti hari ini?* Gumam hati ku yang tak habis-habisnya mempertanyakan keadilan Tuhan. Aku siap. *Hari ini aku siap!* Tunggu.... Aku belum siap. Aku mulai lagi membatin tanpa kalimat yang ku ucap dengan jelas. Apa aku siap? *Kau bodoh, Sintya! Kau bodoh. Apa yang kau harap dari cinta pertama mu itu?* Tak lama aku terdiam. Hujan datang kembali. Turuni bukit pipi kananku. Dengan jelas, tangisan lagi yang ku terima. Setelah tak ada lagi hal-hal yang menarik tentang dirinya setelah satu tahun mulai berlalu. Cinta itu entah kemana? Mungkin telah singgah di hati yang lain atau mungkin membusuk di dasar hati yang sengaja dibekukan? Aku tak tau. Hanya dia yang tau. *Ya, cuma kau yang tau, Syobri!* Tak apalah dengan rasa yang mengalir terus dari hatiku. Aku terlalu sering membiarkan matahari singgah disana. Membiarkannya tetap tersinari cahaya agar terus hidup. Itulah kebodohanku. Aku bodoh. Tak sadarkah aku jika satu tahun itu waktu yang cukup untuk membiarkan rasa itu mati perlahan?

Minggu, 09 Desember 2012

Memory

*Jangan liat aku, please!* aku bergerutu dalam hati, menyadarinya melemparkan pandangan ke arahku. Sesaat itu *brumm..brumm..* *mesin motor? yah, suara mesin motor* ternyata kau, kau yang dulu pernah peduli padaku.

Kejadian itu berawal dari kejadian 4 tahun silam. Saat kau dan aku baru saja menikmati masa peralihan SD ke SMP, masih sangat kecil, bukan? Saat itu, saat pertama kali kita saling kenal yang justru bukan dibumbui kisah romantis dan heroik seperti dongeng-dongeng anak kecil, melainkan kisah adu mulut seorang anak perempuan dan anak laki-laki yang memperebuti meja tempat duduk dikelas VII.9. *Ini tempatku! Dari awal MOS, aku yang duduk disini!* Teriakku saat melihat bangku yang sedari awal MOS menjadi kepemilikan ku ditempati anak laki-laki dan seorang temannya. *Hah? Siapa cepat, dia dapat!* Anak laki-laki itupun tak mau kalah ngotot denganku. *Kamu siapa? Dateng-dateng ngambil tempat orang!* *Sudahlah, Yo. Ngalah aja. Kita kan cowok, masa ribut sama anak cewek sih?* Akhirnya teman laki-lakinya yang sedari tadi hanya menonton keributan kami angkat bicara. *Ah, kamu Zi. Kamu kan seharusnya bela aku, bukan justru ngalah gitu!* Akhirnya perebutan itu pun aku menangkan. *Siapa dia? Lah, dari kemarin juga aku yang duduk disini.* Gerutuku dengan sepupuku yang juga teman sekelasku.

Minggu, 18 November 2012

Kelabu Dirimu

Dengan rasa yang menggebu..
Memberikan tiap rasa yang kucecap saat itu

Menikmati tiap rasa yang ku sadari
Itu pertama kali ku kecup

Lembayung senja yang meneduhkan tatapan matamu
Tiap kali menggoda dengan setiap yang tubrukannya

Mata yang tak pernah habis ku cerna
Ingin ku menghardiknya
Dengan setiap cemoohan yang membakar

Namun na'as, tiap jengkalnya
Hanya ku biarkan mengapung tanpa perlu meledak

Melangkah demi tahap
Yang ku tau
Hati ku gerah dengan langkahnya

Takkah kau coba untuk menatapku balik?
Lupakanlah keluhmu saat bersamaku
Mentari membiarkan rasa itu bersemayam

Biarkan tiap ragumu melayang ke udara
Mengangkasa hingga terbang jauh
Menyisakan "Kau dan Aku"

Takkah kau coba menjawabku?
Coba jelaskan tiap ragu yang mengepungku tiap malam
Seolah siang cepat berlalu

Hanya sekedar memikirkanmu saja aku gila
Bagaimana jika nantinya kau benar hilang?

Takkah kau coba terangkan padaku?
Situasi dingin yang membelengu kita
Yang selalu mendekapku dalam kesurauan

Suram yang tak terbalas hingga menyaksikanku menjauh
Aku yang tak kembali
Atau kau yang melupakanku

Aku tak pernah benar melupakanmu
Yah, memang tak ada satupun yang bisa kulupakan

Jelas saja
Semua itu menyiksaku
Membuat lembaran hidupku terlalu suram
Yang akan menyiksaku dalam kegelapan
Tanpa batas rasa iba...
Minggu, 11 November 2012

Rahasia Kita

Everything That I Do, Reminds Me of You

 Hatiku berkata seperti lirik lagu dari Avril Lavigne - When You're Gone. Saat aku mulai menelusuri kata hatiku yang hanya selalu berbisik saat itu juga aku tau, aku kehilangan. Aku kehilanganmu. Kau, Angga Handoko. Satu nama yang tetap terukir ketika aku menatap langit mendung yang siap memuncratkan semua bulir air mata yang menggenang di pelipis mataku. Aku lupa mengeja. Aku hanya ingat beberapa bait puisi pertama darimu. Yah, puisi dan sajak merupakan bagian dari jiwamu. Sajakmu terukir dihatiku:

Setiap nama yang aku curahkan
Setiap kata yang terus ku gali
Kau tau, hanya namamu yang menggema
Hanya hatiku yang selalu mengungkapkan beribu kesalahan
Aku terlalu tenggelam dalam rasaku
Aku memilikimu agar hatiku bahagia
Melengkapi setiap dinding yang bergebu
Aku mengharapkanmu, Sungguh
Carrisa Wijaya...

Aku meleleh ketika kau katakan sajak itu. Aku tak begitu menyukai sesuatu yang berbau sastra. Bagiku, pelajaran itu hanya membuatku mengantuk. Tapi ketika aku mengenalmu, dan berusaha memahamimu aku tenggelam dalam keseharianmu yang begitu akrab dengan seni itu. Aku mulai belajar darimu merangkai kata yang bagiku sangat melankolis. Hampir-hampir membuatku mengantuk. Bait ku yang berkata:

Aku pun begitu
Aku mencari, menggali nama yang hadir
Nama yang menggangguku saat aku terlelap
Oh, tidak..
Nama yang selalu menyinariku
Aku yang tak tahu apa-apa
Aku yang selalu mencari akal
Mencari setiap kata yang ku eja
Kau mengajariku
Kau dengan sabar
Menuruti apa yang kuharapkan
Kau begitu mengharapkanku
Andai cinta dengan kita
Hanya untuk kau seutuhnya...
Angga Handoko....


Bahkan hingga hari ini aku tak pernah sadar, aku menyukai segala sesuatu yang kau pernah hiasi. Aku menyukai tulisanmu, aku mengagungkan sajak-sajak yang sekarang hanya bisa ku baca berulang kali tanpa seorang yang terkasih. Angga kembali... Kembali... Tega kau tinggalkan aku sendiri... Memang ini salahku. Tapi andai kita bertemu lebih awal, mungkin kau yang ada disampingku, kau yang mencariku. Mengapa tak kau katakan yang sejujurnya? Kita bisa tetap bersama menjalani hari, aku bisa mengatur apa yang harus ku lakukan. Kau bohong... Sajakmu tak benar adanya....

Bahkan hingga detik ini, hingga aku menuliskan sebuah surat untukmu, aku tak tau harus ku kirim ke alamat mana. Kau menghilang begitu saja. Setiap kali aku menatap perpustakaan sekolah, selalu ku temukan dirimu. Dan tak memakan waktu yang lama, kau memanggil namaku. Kau berteriak seolah kemari Carissa, duduklah disini... Kau begitu pintar, kau bisa tau apa yang kuresahkan. Tak usah berpikir, aku mantapkan langkahku mendekatimu. Aku baru saja menulis sebuah puisi baru. Akan ku bacakan untukmu..

Kau yang duduk disana
Tak sungkankah kau melirikku sekali saja
Aku berdesir dalam hati
Nama yang ku tau
Yang menggelitikku saat ku tatap kau
Kita satu kelas, bukan?
Mengapa tak kau coba untuk mengenalku
Aku pelangi yang siap ada saat hujan
Aku rembulan yang menemani malammu
Aku matahari yang selalu membuat harimu ceria
Aku segalanya untukmu
Aku... Aku... Aku...
Selalu Aku...
Simpan aku...
Carissa...

Aku tertegun. Apa? Carissa? Itu namaku, bukan? Seolah tau apa yang ku katakan dalam hatiku. Kau menyambar lamunanku. You're my sweetheart. You're my dream. My dream about my first love. You're my beloved. Aku juga. Aku sama sepertimu. Kau ajarkanku banyak hal. Aku mencari cinta ini. Yang aku tau, ketika kita mencinta, ada yang berdesir ditubuhku. Setidaknya itu yang dialami para tokoh yang pernah ku tonton dalam sebuah film drama. Kau tertawa terenyak. Aku sejenak terdiam. Katakan sekali lagi, bahwa kau mencintaiku. Will you be my first? Ya, Tuhan. Kalimat itu. Aku mau, pasti aku mau.

Sejak itu kau mengumpulkan banyak sajak yang selalu bertemakan Aku. Aku tau betapa besar cintamu melalui puisi itu. Kau pun mulai paham puisiku. Kau mulai mengerti bait yang menceritakan tentang Kamu. Namun, puisiku tak sesederhana milikmu. Kau begitu sederhana yang selalu mencurahkan setiap perasaan pada tulisanmu. Berbeda dengan ku yang hanya mampu menggunakan teknik. Karena itu lah puisiku seperti tak bernyawa.

You're the first
But you'll be the last
Tentangmu yang tak habis mencurahkan
Diriku yang tak bernyawa
Terenyak hingga menggantung
Aku kini menggapaimu
Aku tak tau apa ini
Apakah ini mukjizat
Atau hanya lambunganku
Lebih dari sekedar indah
Kau mencairkan kekosongan yang dulu
Kau memenuhi setiap bait tulisku
Tak mampu ku hindarkan
Namamu..
Sekali lagi kau... Carissa...

Setiap saat kau selalu menuliskan namaku. Yah, setiap akhir puisimu, tak lupa kau ukirkan namaku. Aku beruntung. Aku merasakan betapa aku berharga bagimu. Kau yang selalu tak mampu ku ingkari. Aku tak tau. Sejak ini aku rasa dunia digenggamanku.

Tapi, mimpi buruk sekali lagi menghujam ku. Hingga satu minggu sebelum ujian nasional dilaksanakan, kau hilang tanpa berita. Puisi terakhirmu:

Ingat aku selalu
Kenang aku setiap saat
Aku akan selalu hadir dimimpimu
Aku akan selali menemanimu
Tak usah khawatir
Akupun selalu menjagamu
Aku tak disampingmu bukan berarti tak ada aku
Aku hidup
Aku bernyawa dihatimu
Kau sebut saja namaku
Aku akan terus ada
Aku beryawa
Kau ingat?
Aku bernyawa
My sweetheart, You're my beloved forever
Aku selalu merindukanmu
Saat aku mengukir tinta denganmu
Saat sajak pertama yang kau tulis
Aku bahagia
Karena aku lah inspirasimu
Aku mengenangmu
Bukan...
Aku mencintaimu selamanya.
Carissa Wijaya...

Aku terlamun. Aku tak mengerti sajak mu kali ini. Apa yang kau maksud? Tapi kucoba mencari akal. Pikiranku mulai positif. Tak ada yang salah. Hingga keesokan harinya aku tak menemukanmu. Dikelas kita ataupun perpustakaan tempat kita menghabiskan waktu. Kau tak ada! Aku mulai khawatir. Aku coba menghubungimu melalui ponselku, tapi apa? Tak ada sambungan dari seberang sana. Kau kemana? Tega kau menghilang tanpa kabar. Atau kau berbohong?

Bahkan hingga saat ini aku tak tau alasan apa yang kau berikan atas segala kekacauan hati yang kau lakukan. Terakhir, kabar yang kudapat. Aku memberanikan diri datang kerumahmu. Tapi, damn... Tak ada seorang pun dirumahmu. Hingga seorang tetanggamu berkata kau tak lagi tinggal disana, sejak satu minggu yang lalu. Yang hampir membuat ku mati berdiri, Saya dengar anaknya yang bernama Angga kelainan jantung, hingga harus berobat ke Amerika. Apa? Apa? Apa yang dia katakan? Benarkah itu, sayang. Aku tak tau. Kau tak pernah menceritakan derita mu itu. Aku tak tau itu benar ataukah salah?

Saat ini hanya hujan yang tau. Puisi-puisimu tetap kujaga rapi. Aku sandingkan bersama puisi yang ku tulis hanya untukmu seorang. Aku tau, kau tak mungkin tau. Aku harap aku memiliki telepati. Telepati yang selalu terhubung denganmu. Sehingga tanpa berucap banyak kau tau apa yang kurasakan. I just can love you. None can move you from my mind. You're only the one. You're all my soul. You're my hearbeat. I love you. And it's forever.

Aku mengharapkanmu
Dimanapun kamu berada saat ini
Dengan siapapun kau saat ini
Aku percaya, tetap percaya
Bahwa sajakmu tak pernah berdusta
Cintamu tak pernah salah
Aku... Hanya seorang...
Namaku dihatimu
Namamu dihatiku
Aku selalu tau
Aku selalu yakin
Kau bernyawa dihatiku
Dan akan kekal hingga kapanpun
Angga Handoko...

Cintaku padamu tak pernah berdusta. Walau saat ini dia disampingku. Tapi aku tau, hatiku milikmu. Milikmu seutuhnya. Andai kau tetap disini, bersamaku. Mungkin kau lah yang akan tetap ku panggil "sayang". Cintaku tak pernah berpindah tangan. Dia hanya kebahagiaan untuk ibuku. Ibu ku yang menjodohkan kami, setelah melihatku begitu terpuruk dengan hal itu. Kepergianmu yang tak kuduga. Bahkan tak ada lagi cerita sejak kau menghilang.

Tak ku sangka
Pertemuan itu menyulut tangisan
Aku merintih tanpa dirimu
Kau menghilang tanpa kabar
Sajak terakhirmu tak berguna
Sajak itu tak mampu menjadi obat
Hanya kau dan cintamu
Pelipur lara ku
Menjagaku, menuntunku
Kau mengubah setiap nafasku
Kau mengatur hidupku dengan caramu sendiri
Karena itu lah
Aku menghidupkan cintamu
Dengan caraku sendiri
Dan, mereka tak perlu tau
Jika kau selalu bernyawa seperti apa yang kau janjikan
 
Aku selalu menunggumu. Cepat kembali. Jangan kau pergi. Tunggu aku disana, sayang...

Untuk itu kau pergi?
Untuk menunjukkan padaku,
betapa kau berarti dihidupku?
Kau salah, Kau pergi
Kau membuat buliran itu tumpah ruah
 Mengeroyokku, menggerogotiku
Tanpa ampun..
Minggu, 04 November 2012

Huh...

Bagaimana caranya aku mengerti cinta jika ketika aku rasakan kebenaran cinta untuk pertama kalinya dari kamu, tapi kamu selalu tak menjelaskan padaku? Yang kamu lakukan hanya berkata "Cinta" padaku, tapi tak benar-benar kamu perjelas kata-kata itu dengan kalimat cinta yang biasa aku baca dari novel-novel ku. Kamu hanya memberitahukan ku tentang cinta lewat novel yang sering kamu berikan padaku. Yah, novel adalah salah satu obat yang paling tepat untuk membunuh waktuku ketika kamu pergi tinggalkan ku yang kesepian. Aku tau banyak hal yang harus kamu lakukan ketimbang hanya untuk terus mengawasiku.

Ketika semua harus terus berjalan satu sama lain seperti apa yang kita bicarakan sore itu. Huh, mengapa sore selalu memberikan memori yang tak pernah habis ku pikirkan? Sejak itu juga semua mulai berubah, walau tak banyak yang berbeda. Memang tetap ada aku dan kamu tapi ada yang diganti. "Kita", kata itu tak lagi kuucapkan. Aku berusaha mengganti kata itu. "Kamu dan aku", sebisa mungkin aku membuat kata itu menjadi sebuah ucapan yang tak kaku, terdengar biasa saja. Ku usahakan.

Memang caramu padaku tak banyak berubah. Semua tetap kau biarkan seperti dulu. Tapi, aku lah yang berusaha mengubah semuanya. Atau aku terlalu mementingkan sebuah "status" ketimbang rasa yang benar-benar kami sadari satu sama lain? Aku  mungkin terlalu egois untuk mengakui kebenaran yang telah terjadi. Bahkan aku tak sanggup menceritakan apa-apa yang  telah terjadi. Aku biarkan kamu yang menceritakan. Aku tak mau terkesan memimpin hubungan. Alasannya jelas, aku perempuan. Tak mungkin aku biarkan semua ini aku yang atur.

Maka dari itu, aku ingin kamu yang memulai, hingga akhirnya kamu yang mengakhiri. Walau sebelumnya, aku lah yang selalu berniat mengakhiri, tapi temanku dan hati kecilku setuju untuk membiarkan banyak hal berlarut-larut hingga kamu yang akan mulai merasa lelah. Dan semua itu akhirnya mengikuti alur yang telah aku ciptakan. Kamu yang mengakhiri. Aku tak suka. Tapi, memang dari awal seharusnya begini. Aku menyesal telah menciptakan alur kesedihan ini. Aku tau ini diluar kendali. Hati ku sudah terlalu lama menguasai pikiranku. Saatnya aku mulai berpikir. Keadaan akan jauh lebih baik ketika aku meng-iyakan keputusanmu. Jauh lebih baik memikirkan hal yang akan terjadi ketimbang perasaan ku sendiri. Semua telah dimuntahkan begitu saja keluar dari sisi yang terindah.

Setiap hal pasti akan berakhir. Itu yang akhirnya ku yakini. Adikku bahkan telah 2 tahun dalam rasa yang berlarut-larut hingga salah satu diantara mereka mendua. Sedangkan aku... Yah, itu wajar. Sangatlah wajar. Semua tak akan menjadi sebuah kenangan ketika kita.. atau mungkin kau dan aku tetap bersama. Mungkin kita akan selamanya terpenjara dalam kebisingan dunia sekitar. Kau juga tau, tak ada satu pertanyaan yang benar-benar kamu jawab saat terakhir kali rasa itu memuncak. Sejak saat itu, aku tau kamu benar-benar tak pernah menjawab dengan jujur apa yang selalu ku tanyakan. Kamu selalu membiarkan aku untuk mengartikan setiap sikap yang kamu tunjukkan.

Aku tak habis pikir saat itu. Bahkan teman-temanku pun merasa betapa bodohnya aku padamu. Jika mereka jadi aku mungkin tak ada yang mampu bertahan selama ini. Ah, sudahlah, jauh lebih baik jika setiap yang akan ku lakukan lebih ku perhatikan lagi. Kamu begitu baik, begitu sempurna dimataku. Setidaknya "sempurna" bisa kujadikan alasan yang paling tepat untuk melupakanmu. Aku tak mau terus mengikuti kehendakmu. Sudah terlalu lama aku turuti apa yang kau ucapkan. Menunggumu. Menantimu. Berada disampingmu. Maka saat ini biarkan aku bebas lepas. Lepaskan aku. Aku akan mencoba.

Cinta yang begitu sering kau dendangkan padaku sudah tak berarti lagi saat kekecewaan yang semakin menggila terus tak terbendung. Kekecewaan ku tak berarti lagi. Sudah tak cukup hati aku menunggumu. Biarkan aku mengila dengan cara ku sendiri. Maafkan aku kini ku harus pergi. Jika tidak aku akan terus termenung dalam kesepian tak berujung..
Minggu, 28 Oktober 2012

Behind The Black


So wonderful beauty that God has given, until this moment I can joke with every bliss that I have. About you and be with you, I'm always bombarded with a sweet smile that is so sincere from you. I always expect the time to stop when I'm with you. Holding hands with a steady foot into the light of life will progressively light glare. I wish I could repeat more sense of that day. How I could only be grateful for the gift of God that is so kindly giving happiness to useless to us.

But again, that's just what happened several years ago. When you're still here, still accompanied my day with such great spirit to stay with me. I always repeat my way to get your attention every time you're busy with your own business. At that time, I always succeed to get love, even though you sometimes look so upset because I made you even pay attention to me alone. But, now all changed. Since you came back to the God a year ago, the fog was still covering my smile.

 At that time we were enjoying the way back to the city where we live. I'm trying to reach my phone lying on a sofa behind the car. I tried reaching out, but damn. You were with a small gap that trying to reach my phone watching me until when I got back to my seat, a truck passing leads us to the forward car accident so tragic for me recalled back. I saw you covered in blood at the time. I was about five feet away from you is reversed in the car. I could not do anything about it. All I could do is seeing you from my place and tried to shout your name as loud as possible. But again unlucky. A voice so strong I tried to remove it from my throat finally could not instigated. Until more people are swarming around us and after that blackened my sight until I forget things after that.

After that, all I remember is the first time I opened my eyes I saw that it was only a white roof. Sure enough, this is hospitals. Oh, no ... Where is he? Where's my sweetheart? You know, when I started powered remember him, I tried to turn his head toward my right. All I saw was my father stood beside my best friend. I'm still not able to say that I took it out of my mouth only afford a small sigh seemed to have tired of waiting.Their faces are so scary. As if to keep me unconscious. definitely, after that I was holding my father's hand, as if asking for an explanation of all this.

I hate honesty. I covered my ears did not want to hear anything else they say. Tears dripped chubby cheeks. The tears that yesterday had me spend time with her happy tears. I was upset with many things. Especially with God. What else You want? Can not You just let me be happy for a moment. Until finally You dispose of that happiness. Immediately I was so very angry with the God. I became his servant that is so pagan. Dirty up my mind I was struggling trying to pull out the IV that is embedded in my right arm.

The incident I'll never remember back. At least, that's my promise to him when I attended his funeral. I was weak, I was covered in black cloth on my head. With that I wear sunglasses to cover my eyes because the bruises would not stop crying and sitting in a wheelchair not because I could not walk. I promise I will never be as happy as with you anymore. I can not. And really could not.

I became a person who is so pathetic. I spent my days just to paint the sky outside the window. My friend can not afford it with my behavior. She finally took me to an orphanage. At first I did not understand the desire. Until the third time we were there I understood her point. She wanted me as strong as that children. So I was just hiding behind its thick black clouds that had been fool me. My love will be happy there too. Well, he reasoned carry the name of love. I know his intentions so well. Until finally I tried to get up and start painting for the children.

Since that day I started to build up my life again. I started actively attending school painting again. I started learning about the social life I had never thought of before. I became more open and slowly being myself the first, although there is a black hole in my heart. Every month, I always go to his grave. I pray that he's be happy there too and also tell a lot about my life now.

Since the lessons of my life that I began to brave to learn the new things, try to release  the shadows of my love began to pass. I consider it to be a black fog of my past. I began to fill my days with rainbow. But I always remember my promise to him. I would still love him. Remain always and will never change.

Sadness and tears those are my life lessons.
I'm trying to survive, although I would fall
I will not know
, until I tried it. :)

Surga

Dengan rasa ini, pagi hari yang berkabut bisa menjadi surya yang indah bila mengenangmu. Dengan rasa ini pula, ku tembus pagi ini dengan rasa yang berjuta. Mengawali hari itu indah bagiku. Kau tau? Indah yang ku maksud bukan indah yang sebenarnya. Melainkan hanya majas hiperbola yang terlalu melebih-lebihkan sesuatu yang sebenarnya biasa saja. Tapi bagiku, ini lebih dari cukup. Kebahagiaan selama ini bukan sekedar hanya kesenangan yang berhura-hura ria. Tapi melebihi Surga yang pernah Tuhan janjikan dalam Kitab-kitab-Nya.

Ya, Tuhan memang hanya ada satu. Menurutku, ajaran dan keyakinan lah yang menjadikan-Nya seolah beragam. Mengapa harus ada perbedaan itu? Huftttt.... Andai tak ada yang berbeda dalam keyakinan, dan Tuhan yang kita sembah hanya Dia. Aku yakin sekali bahwa kita akan benar-benar bisa bersatu. Yah, bukan kita yang bersatu menjadi satu tubuh tapi hati kita yang bersatu beriringan menapaki kehidupan. Kau dengan kepercayaanmu dan aku dengan kepercayaanku bisa tetap berjalan dengan baik. Saling mengisi. Tapi mereka?

Ah... Mereka. Mengapa harus ada mereka. Membuat semua yang pernah kita lalui seolah tak berarti. Mereka menganggap bahwa perbedaan itu terlampau dahsyat. Begitu mengguncang jika kita bersama. Nganga itu semakin mejadi ketika penolakan itu justru paling gencar ditujukan oleh orang terdekat ku. Betapa hancurnya hati ku ketika kehendakku harus ku muntahkan begitu saja karena ketidaksetujuan mereka. Mengapa mereka harus ada? Mengapa?

Mengapa? Setiap malam hanya kata tanya itu yang selalu terucap dibenakku. Aku ingin kau tau, aku tak ingin ini terjadi. Aku tak bisa menyalahkan-Nya. Aku hanya hamba-Nya yang begitu percaya meyakini sepenuh hati ku bahwa Dia-lah yang paling berperan dalam hidupku. Ya, Tuhan. Kau ciptakan langit dan bumi ini untuk saling melengkapi, bukan? Tapi mengapa saat ini langit dan bumi yang kau ciptakan itu digunakan para umat-Mu untuk menjadikan sebuah klise kehidupan yang begitu pahit ini. Bahwa kata mereka, "Langit dan Bumi tak akan bersatu, mereka diciptakan saling melengkapi tapi tidak untuk bersatu." Ya, Tuhan.... Berapa kali aku harus berdoa dalam setiap sujudku pada-Mu, bahwa aku nyatanya ingin semua perbedaan ini berakhir. Tapi satu sisi aku tau, Kau menciptakan perbedaan ini untuk umat Mu agar mereka bisa merenungkan setiap perbuatan mereka.

Pro dan Kontra kehidupan seakan semakin lengkap ketika kau pun juga menyetujui keinginanku yang benar-benar bukan dari hati terdalam ku. Tuhan memang satu, kita yang tak sama. Haruskah aku lantas pergi, meski cinta tak kan bisa pergi? Salah satu lagu dari Marcel "Peri Cintaku", yang barusan saja aku dengar di MP3 ku yang dengan sengaja aku putar untuk mengenang kisah cintaku ini. Kau tau? Cinta itu memang tak selamanya membutakan. Buktinya, jika cinta buta, cinta tak akan hancur hanya karena Ketuhanan yang dianut berbeda. Mungkin itu hanya bagiku bukan untuk kalian. Tapi, Please..... Aku mohon, jangan kau iyakan keinginanku itu. Aku tak ingin semua berakhir begitu saja.

Bukankah kita pernah berjanji? Tak akan ada yang bisa memisahkan kecuali Tuhan. Ya, Tuhan. Apa yang Kau rencanakan kali ini untuk kehidupan cintaku? Ataukah harus aku menunggu sang waktu yang akan menjawabnya? Aku tau jika ini terjadi berarti kami bukan jodoh. Aku tau pula bahwa garis tangan yang telah Kau lukiskan tak mampu kami ubah. Maka aku mohon dengan sangat meminta, tolong Kau buat kami bersama, walau mungkin kami tak bersama di dunia Mu ini tapi satukan kami disurga Mu kelak yang telah Kau janjikan. Aku tau, setiap kepercayaan meyakini adanya Surga yang abadi maka dari itu aku pula yakin bahwa hanya surga Mu yang akan bisa menyatukan kami tanpa ada kata mereka.

Mungkin tak semudah itu juga kamu iya kan pernyataan ku kemarin malam. Aku bersikeras untuk mengakhiri semua ini demi mereka. Lagi-lagi alasan ku adalah mereka. Bisakah mereka ku buang jauh-jauh agar tetap bersamamu? Kau katakan jika aku hanya memikirkan mereka, bahwa aku tak benar-benar menginginkan itu, bahwa aku tak memikirkan perasaan ku sendiri yang sebenarnya tak ingin ini terjadi... IYA... Memang benar, sayang. Aku ingin ini hanya mimpi. Kau tau, aku butuh banyak waktu hingga akhirnya kepingan air mata ini aku kumpulkan untuk akhirnya ku dirikan sebuah kekuatan kokoh untuk mengakhiri semuanya. "Kau bohong! Kau bohong, sayang....! Kau hanya memikirkan mereka! Aku tau, kau tak ingin ini terjadi, bukan? Ayolah, sayang... Berhenti berkata mereka! Hingga akhirnya nanti mereka akan bahagia melihat kita bahagia bersama." Kau berkata dengan sungguh. "Tapi kau tak tau, mereka benar-benar mengenal ku begitu lama. Tak bisa kau ucap begitu, kau tau? Aku bukan tak berpikir. Ini membuat ku hampir mati." Aku membalas dengan derai air mata yang akhirnya mengucur juga dari bukit yang telah lama menahan derasnya aliran itu. Aku tak bisa menoleh ke belakang lagi. Aku sudah terlalu takut dengan melihat wajahmu yang begitu mendung. Pelangi yang selalu menghiasi wajahmu sekarang berubah menjadi petir dengan pekat hitam awannya.

Maafkan aku. Sayangnya, aku terlalu pengecut untuk mengatakan dua kata tersebut. Ya, Tuhan. Inikah yang kau inginkan? Kau ingin dua hamba Mu ini berakhir tragis dengan goresan yang begitu perih dihati kami? Aku tak menyalahkan-Mu. Aku hanya bingung dengan garisan ini. Apakah aku pernah menyetujui hal ini sebelum kehidupan ku? Mengapa ku lakukan itu? Tak pernahkah aku berpikir bahwa aku akan terluka sedalam ini? Aku tak sanggup. Aku berjalan selangkah perlahan namun pasti meninggalkanmu. Hingga akhirnya kau memanggil namaku dengan begitu keras. Nada kalimatmu itu seolah memerintahkan aku untuk kembali dan jangan bergerak selangkahpun menjauhi mu. Tapi aku hanya menghentikan langkahku sekejap hingga ku tahan semua emosi yang memuncak untuk kembali padamu. Ku tegaskan langkahku kembali untuk tetap melangkah tanpa keraguan. Aku berlari agar udara malam ini tak terlalu lama menusuk jantungku yang nanti bisa membuatku jatuh tersungkur dengan bodoh.

Aku tak tau sejak saat itu. Aku dengan sengaja memutuskan kontak denganmu. Aku tak mau diri ini menjadi bodoh dengan kasus cinta yang begitu tragis ini. Aku tak ingin kau pun berlarut dengan air mata yang semalam sempat ku lihat dalam tundukkan ku. Sejak saat itu, aku hanya mendengar berita dari teman-teman ku yang berkata bahwa kau selalu menanyakan ku. Ya, Tuhan. Tak bisakah kau buat cerita cintaku yang lebih simple dengan bunga-bunga yang indah? Bukan malah dengan darah yang menembus setiap jengkal laraku. Aku tak mampu munculkan diriku depan dirimu. Betapa bodohnya aku hanya karena mereka  aku menghancurkan hati yang begitu lembut.

Sekarang, sudah 5 tahun berlau, bayang mu telah membuat ku menjadi pribadi yang lebih kuat. Terima kasih atas cinta yang begitu lembut yang mengajarkan ku tentang arti kesetian, ketulusan, kehidupan bahkan keyakinan yang tak bisa terbohongi.

Aku ingin berbagi sedikit padamu. Sekarang apa yang ku inginkan telah aku dapatkan. Kau tau, aku dulu sering bercerita padamu tentang diriku yang nanti akan mengenakan sebuah almamater putih khas dokter. Tentunya, sekarang aku mewujudkan mimpiku itu. Kau tau? Yang hingga detik ini ku ingat, kau lah orang pertama yang memanggilku Bu Dokter, dulu saat kita bercerita tentang keinginan  masa depan kita. Dan terakhir ku dengar kau mengambil fakultas Hubungan Internasional. Aku bahagia sekali. Keinginanmu untuk menjadi seorang Duta Besar akhirnya benar-benar kau tempuh. Aku pun punya kebanggaan tersendiri dihatiku. Bahwa suatu saat nanti, aku akan melihatmu berdiri di podium dengan lambang Garuda sedang menyampaikan pidato kenegaraan. Kau, Pak Dubes. Hehehehe... Aku bangga setidaknya kau pernah mendengar kata-kata ku itu dengan langsung.

Kau akan tetap terukir indah di hatiku. Semoga aku tetap dihatimu hingga akhir nanti. Hingga doa ku pada Tuhan untuk menyatukan kita di surga kelak tercapai. Kau harus mempersiapkan dirimu. Pada nantinya, kita akan bersatu disebuah tempat nan indah yang benar-benar diakui setiap kepercayaan tanpa ada kata mereka. Sampai berjumpa di Surga, sayang. :)

Bukan karena keyakinan yang berbeda
Tapi karena Tuhan mempunyai caranya sendiri untuk menyatukan kita
Dalam sebuah hati yang utuh. :)
Sabtu, 27 Oktober 2012

Rasa yang Seketika


Ada yang lain ketika aku terbangun tengah malam tadi...
Seperti biasa bayangmu yang selalu menghantui aku, hadir kembali dalam suasana malam yang berselimut pekat awan hitam. Yang beda hanya perasaan ku saja. Jika kemarin kita pernah berbicara tentang keraguan cinta tapi kini itu terjadi kembali padaku.

Aku hanya ingin ada satu kata yang terucap dari dirimu. SATU KATA saja. Just it. Aku mulai mempertanyakan janji yang kau ucapkan hari itu. Bak mendung yang tiba-tiba datang, sesegera mungkin pula petir menyambar hatiku, ada yang mengganggu tidur malam ku kali ini.

Aku ingat salah seorang.. Oh, bukan. Beberapa teman ku berkata kau bukan yang dulu lagi. Hatimu tak lagi aku. Itu yang mereka katakan padaku. Lagi-lagi ekspresi mereka muncul dalam memori yang pernah sengaja aku buang untuk mempercayai mu lagi. Saat itu ketika jam pelajaran dikelas ku sedang kosong. Yah, jarang sekali ada guru yang mengikhlaskan jam pelajarannya untuk kami buang sekedar untuk berhura-hura. Mereka duduk di depanku. Seolah membicarakan ku. Oh..., tidak mereka memang membicarakanku. Gosipkah atau memang Nyata? Aku tak tahu.

Salah seorang dari mereka melirik ke arahku, sekecap mata pun aku melirik ke arahnya, kau tau? Mata kami bertemu untuk beberapa detik hingga akhirnya salah seorang dari temannya itu menyadarkan lamunan kami. Kau tau yang membuat ku tersambar petir di siang bolong? Dia berkata pada yang lain, "Diam. Jangan sampai dia tau!", dia berkata. Namun, damn... Kau terlambat. Kata-katamu itu telah terekam di memoriku. Langsung saja tanpa basa-basi aku bertanya kepada mereka, "Apa yang sedang kalian bicarakan? Tentang diriku kah? Ada apa dengannya?", pertanyaan itu seketika meluncur bebas dari tenggorokan ku yang langsung saja keluar tanpa meraba lagi. Aku terbelalak mendengar pernyataan salah seorang dari mereka yang berkata jujur. Huft... Jujur. Setidaknya tak satupun yang dia ragukan dalam kalimatnya itu. Terutama caranya bertutur padaku. "Dia suka dengan salah seorang adik angkatnya. Kau tau kan? Bagaimana lingkungannya? Nama perempuan itu Y****."..... Apa??? Aku benar-benar mati berdiri mendengar pernyataan mereka. Benar-benar mengecewakanku jauh daripada saat aku tau bahwa juara umum ku direbut oleh sepupuku sendiri. Ini benar-benar GILA. DAMN.....

Siapa? Siapa nama perempuan itu? Y.. Ya.... Siapa? Benar-benar aku tak bisa mencerna satu nama yang begitu akrab ditelinga seorang Indonesia seperti ku. Aku bahkan sekarang lupa nama perempuan itu. Ku ingat sekali, sehabis dia menceritakan hal itu, mereka tertawa. Entah puaskah karena aku akhirnya termakan gosip murahan itu atau karena ekspresi wajahku yang seperti orang bodoh yang tak sanggup aku tutupi? Kau tau, aku bingung. Kau tau? Aku benar-benar bodoh. Aku benar-benar tercekik dengan satu kalimat yang menjatuhkan hatiku jauh ke dasar jurang. Aku tak bisa berpikir sehat. Yang ku tau, hati dan pikiran ku setuju bahwa aku KECEWA.

Aku ingat kalimat mu beberapa hari sebelum kejadian itu terjadi. Kita sedang berbicara tentang Kunci dan Gembok. Kau benar-benar berjanji, "Jika kunci akhirnya tak bisa menemukan gembok, kunci itu akan mencari sendiri gembok asli miliknya." Kalimat itu mampu menyihir ku hingga aku percaya kembali padamu. Tapi, kali ini benar-benar meruntuhkan semua kata itu. Ketika bel berbunyi, bergegaslah aku pulang tanpa menoleh siapapun yang memanggilku. Yah, biasanya aku pulang bersama teman ku atau setidaknya kami keluar kelas bersama. Tapi kali ini, amarah yang memuncak sudah terlanjur meledak seperti bom atom. Bahkan rasa sakit akibat ledakan itu mengalahkan bom atom Hiroshima-Nagasaki. Aku benci perasaan seperti ini. Perasaan yang hanya akan membuat ku terjatuh sakit lagi.

Sesampai dirumah, aku bergegas masuk ke kamar ku. Aku menangis, kembali tanpa suara. Tapi hanya itu yang bisa ku lakukan. Jika aku berteriak, dengan segera Mamaku masuk ke kamarku dan bertanya heran. Aku tak mau hal itu terjadi. Ketika jam menunjukkan tepat pukul 13.00 WIB, mamaku pun mulai menyadari bahwa sedari tadi aku mengurung diriku di dalam kamar. Aku pun belum makan siang. Mamaku memanggilku sambil mengetuk pintu kamarku. "Kak, ayo makan. Sehabis itu tolong kamu antar adik mu pergi ke tempat kursusnya siang ini. Mama sedang ada kerjaan." " Iya ma, tunggu sebentar." Aku tak mau mamaku semakin menunggu lama jawaban ku. Segera aku keluar dan mengantar adikku. Selama perjalanan, pikiran ku sibuk dengan apa yang harus ku perbuat setelah ini. Hingga aku harus berkonsentrasi  lebih keras beberapa kali untuk tetap fokus pada jalanan. Hingga pulang dari mengantar adikku, aku pergi kerumah temanku. Sesampai disana aku menjatuhkan butiran air mata yang masih bersisa. Temanku hanya bisa diam dan bingung. Aku tiba-tiba datang kerumahnya dengan air mata yang tak habis-habisnya. Hingga dalam tangis ku aku berusaha menceritakan padanya apa yang ku alami di kelasku tadi.

Reaksi temanku payah. Dia hanya tersenyum dibalik tangis ku. "Itu hanya gosip. Ayolah, tumben kamu termakan gosip murahan seperti itu. Mana mungkin dia seperti itu dibelakang mu? Kau tau sendiri dia orang yang seperti apa selama ini." Dengan mudah dia bertutur seolah mengejekku dengan halus. "Tidak. Kali ini mereka serius. Pokoknya, mulai hari ini aku putus hubungan dengannya. Aku hapus seluruh pertemanan di akun ku terhadapnya. Bahkan nomor nya akan ku hapus dari kontak ponselku." Aku berkata hingga akhirnya tersadar dengan apa yang ku katakan tadi. Lagi-lagi dia meragukan ku. Memang selama ini aku hanya berani mengancam, karena akhirnya aku pun yang menyerah. "Tapi, jika satu bulan ini akhirnya dia menghubungi ku lagi, aku tarik kata-kata ku tadi." Benar bukan? Aku hanya mengancam. Temanku menggeleng-gelengkan kepala nya saja. Dia tau benar sikapku kali ini. Tapi, kali ini benar-benar akan ku lakukan.

Hingga akhirnya aku menghiraukan pernyataan teman sekelasku kemarin. Aku melanjutkan janji ku dengan berharap dia punya feeling hingga akhirnya menghubungi ku lagi. Yups, benar sekali. Dia menghubungi ku lagi. Dia bertanya mengapa selama ini aku menghilang? Marahkah aku padanya? Seperti biasa, aku katakan aku baik-baik saja. Aku bahagia kali ini. Setidaknya kata-kataku kemarin bisa ku ralat.

Jika mengingat kejadian itu, batinku tertawa. Betapa gamangnya aku dengan pendirian ku. Malam tadi aku mulai mempertanyakan rasa itu lagi. Aku harap rasa ini tetap bertahan dihatiku. Aku harap Rasa ini tak pernah berubah. Aku suka dengan rasa ini. Terkadang membuat sesak di dadaku. Tetapi dengan kecepatan cahaya bisa membuatku benar-benar berbunga-bunga. :)


Meresapkan setiap detik di kehidupanku
Aku tau daun itu suatu saat akan gugur
Tapi untuk saat ini,
Biarkan aku menghirup aroma manis bunga itu :)

Asal Mula Nama Irian (Naskah Drama)

Adegan 1

Dahulu kala, di kampung Sopen, Biak Barat, tinggal sebuah keluarga yang memiliki beberapa anak laki-laki.

Saudara 1 : (Dengan raut wajah kesal) "Betapa baunya kau, Mananamakrdi! Terasa mual aku mencium         aroma tubuhmu itu!"
Saudara 2 : (Tersenyum misterius) "Tak aneh jika dia beraroma seperti itu. Tubuhnya yang dipenuhi kudis, siapapun tak akan tahan dengan baunya..."
Mananamakrdi : "Seperti inilah aku terlahir... Mengapa kalian tak pernah menerima keadaanku ini?"
Saudara 3 : "Maka dari itulah kau harus tidur diluar ruma... Baumu itu membuat kami membencimu."
Saudara 1 : "Jika kau melawan, tak segan-segan kami akan menendang kau keluar hingga kau rasakan kesakitan ditubuhmu."
Mananamakrdi : "Aku juga sama seperti kalian. Jika tahu akan terlahir seperti ini, akupun tak mau terlahir!"
Saudara 2 : (Dengan marahnya) "Kalau begitu, pergilah kau!!! Kami sudah tak tahan dengan bau kudismu itu. Kau cari tempat tinggal lain saja. Jangan kau kembali lagi!"


Dengan sedih beserta rasa marah yang berkecambuk dibatinnya, Mananamakrdi akhirnya hanya bisa memendamnya. Mananamakrdi pun pergi meninggalkan saudara-saudara yang membencinya itu.

Adegan 2

Setelah pergi, Mananamakrdi sampai di pantai timur dan dilihatnya lah beberapa perahu yang tertambat.

Mananamarkdi : "Sudah jauh aku berjalan ke arah timur." (Dilihatnya lah sekelilingnya) "Pantai ini? Berarti inilah saatnya. Aku sudah tak tahan dengan olokan-olokan saudara-saudara ku itu. Betapa hinanya diriku bagi mereka..."

Dilihatnya beberapa perahu yang tertambat di tepi pantai.

Mananamakrdi : "Ku ambil satu perahu itu. Akan ku arungi lautan luas itu."

Dan diambilnya lah salah satu perahu, lalu ia pergi berlayar mengarungi lautan.

Adegan 3

Setelah mengarungi lautan luas, ia menemukan sebuah daratan yang tak lain adalah pulau Miokbudi di Biak Timur.

Mananamakrdi : (Bingung) "Pulau apa ini? Sepertinya aku telah sampai di pulau Miokbudi di Biak Timur. Baiklah, akan ku mulai kehidupanku yang baru disini. Dan aku akan buat gubuk kecil dihutan ini."

Dibuatnya lah sebuah gubuk di dalam hutan. Mananamakrdi memulai kehidupannya.

Adegan 4

Pagi hari di sebuah gubuk di dalam hutan.

Mananamakrdi : "Pagi ini aku akan pergi memangkur sagu untuk makan ku."

Dilihatnya sekeliling gubuk kecilnya, yang ternyata terdapat beberapa pohon kelapa yang dapat disadapnya.

Mananamakrdi : "Kebetulan disini terdapat beberapa pohon kelapa. Dengan itu, akan ku buat tuak dari bunga kelapa dan sore nanti akan ku panjat kelapa itu dan ku potong manggarnya."

Diambilnya kapak kecilnya, lalu dia mulai pergi ke dalam hutan, bekerja memangkur sagu dan membuat tuak.

Adegan 5

Hari berikutnya, Mananamakrdi terkejut melihat nira-nira air dalam tabungnya telah habis tak bersisa.

Mnanamakrdi : (Dengan kesal) "Siapa orang yang berani-berani mengambil nira-nira ku ini. Aku ingin tau siapa orang itu. Malam ini aku akan menangkap pencuri itu."

Mananamakrdi diduduk dipelepah daun kelapa itu. Hingga larut malam dan menjelang pagi, Mananamakrdi tetap menunggu pencuri itu.

Mananamakrdi : (Dengn terkejut) "Mahkluk apa itu? Memancar sangat terang mendekati pohon kelapa ini." (Dilihatnya makhluk itu meminum seluruh niranya) "Ternyata makhluk itu si pencuri yang ku cari!!"

Saat makhluk itu berlari, Mananamakrdi menangkapnya. Makhluk itu meronta-ronta dan ketakutan.

Sampan : (Sambil memohon) "Aku sampan, si bintang pagi yang menjelang siang. Tolong lepaskan aku, matahari hampir menyingsing."
Mananamakrdi : "Ohh.... Kalau begitu, sembuhkan dulu kudisku. Dan beri aku seorang istri cantik."
Sampan : "Sabarlah, di pantai dekati hutan ini tumbuh pohon bitanggur. Jika gadis yang kamu inginkan sedang mandi di pantai, panjatlah pohon bitanggur itu, kemudian lemparkan satu buahnya ke tengah laut. Kelak gadis itu akan menjadi istrimu."

Lalu Sampan mengelakkan dari pegangan Mananamakrdi dan Mananamakrdi pun melepaskannya sambil berharap kebenaran dari perkataan Sampan tadi.

Adegan 6

Sejak hari itu, setiap sore Mananamakrdi duduk di bawah pohon bitanggur memperhatikan gadis-gadis yang mandi. Lalu, dilihatnya seorang gadis cantik sedang mandi seorang diri. Gadis itu adalah Insoraki, putri Kepala Suku dari kampung Miokbudi.

Mananamakrdi : "Begitu cantiknya gadis itu... Sepertinya dia adalah putri dari Kepala Suku Miokbudi... Sebaiknya segera ku panjat pohon ini."

Di panjatnya lah pohon itu, sambil menahan rasa sakit dikulitnya akibat bergesekan dengan pohon. Lalu, diambilnya satu buah bitanggur dan dilemparnya ke laut...

Insoraki : (Dilemparkannya buah bitanggur itu ke tengah laut) "Buah apa ini?" (Dilemparkannya lagi) "Mengapa buah ini tetap kembali ke arahku? (Merasa Jengkel) Sebainya aku pulang saja!"

Karena merasa jengkel, Insoraki pun pulang. Mananamakrdi pun pulang juga dengan berbahagia hati setelah kejadian itu.

Adegan 7

Setelah kejadian itu, Insoraki hamil. Kejadian aneh itu ia ceritakan kepada kedua orangtuanya.

Insoraki : "Sewaktu saya mandi seorang diri di pantai, ada satu buah bitanggur yang mengenai tubuhku. Dan ketika saya lempar buahitu, buah itu tetap kembali lagi pada saya. Apa karena buah itu saya hamil?"
Ayah Insoraki : (Menggeleng-gelengkan kepala) "Mana mungkin? Belum ada cerita bahwa buah bitanggu dapat membuat seseorang hamil!!"
Insoraki : (Dengan yakin) "Benar ayahanda... Tak mungkin anakmu  ini berbohong!"
Ayah Insoraki : "Sudahlah... Kembali ke kamar mu! Sebaiknya tak usah kita bicarakan ini lagi.."

Mereka pun kembali ke tempat mereka masing-masing.

Adegan 8

Beberapa bulan berlalu. Insoraki pun melahirkan. Lalu mereka mengadakan pesta pemberian nama. Pesta itupun dihadiri para penduduk kampung dan juga Mananamakrdi.

Ibu Insoraki : "Walau kami belum mengetahui siapa ayah dari anakmu itu, dia tetap bagian dari keluarga kita. Waktupun telah berlalu, anakmu pun kini telah terlahir. Begitu banya kejadian aneh yang terjadi selama ini."
Ayah Insoraki : "Mulai dari siapa ayahnya, lalu kelahirannya yang tak biasa. Dimana bayi-bayi yang baru lahir menangis, dia justru tertawa."
Insoraki : "Saya pun tak tahu dengan semua ini. Saya tak mengeri dengan apa yang terjadi, Ibu."

Lalu dimulailah pesta pemberian nama. Pesta yang dihadiri oleh seluruh penduduk kampung itu, begitu ramai.

Ayah Insoraki : "Dengan ini kami memberikan nama Konori bagi anak ini. Semoga dia bisa menjadi anak yang terbaik."

Mananamakrdi yang berdiri didekat mereka pun menikmati jalannya pesta, sama seperti para hadirin yang lain. Ketika pesta tarian berlangsung, tiba-tiba Konori berdiri dan menggelendot dikaki Mananamakrdi.

Konori : (Sambil berlari) "Ayah....."
Mananamakrdi : (Dengan Kaget) "Anakku......"

Lalu Mananamakrdi menggendong Konori. Semua orang terkejut. Pesta itupun dihentikan. Ayah Insoraki mendekati Mananamakrdi dengan marah dan terheran-heran.

Ayah Insoraki : (Dengan heran) "Kau siapa? Beraninya kau mengaku-ngaku. Tak mungkin anakku mau dengan pria sepertimu!"
Mananamakrdi : "Kejadian dipantai itu? Akulah orangnya. Orang yang melempar buah bitanggur ke arahnya, (sambil menunjuk Insoraki), Insoraki yang sedang mandi seorang diri. Dan Konori adalah anakku."
Ibu Insoraki : "Jika memang benar kaulah ayah Konori maka harus apa lagi... Inilah orang yang selama ini membuat kita gelisah!"
Ayah Insoraki : "Apa benar kau orangnya?"
Mananamakrdi : (Dengan yakin) "Benar. Mana mungkin seorang Konori yang sekecil ini tiba-tiba memanggil aku, seseorang yang tak pernah dia kenal dengan sebutan Ayah. Seperti anak yang telah lama tak berjumpa dengan ayahnya."

Semua orang yang berada disana mengangguk-angguk. Orang tua Insoraki pun akhirnya dengan berat hati mempercayai kejadian itu.

Ibu Insoraki : "Jika itu benar, maka sudah seharusnya dia kita nikahkan dengan Insoraki."

Insoraki hanya bisa terdiam. Dia tak tahu harus apa lagi.

Ayah Insoraki : "Baiklah besok kita adakan perta pernikahan mereka."
Ibu Insoraki : "Sebaiknya kita mulai merencanakannya di rumah saja."

Adegan 9

Pada malam hari, setelah pesta pernikahan Insoraki dan Mananamakrdi, orang tua Insoraki dan beberapa pemuka masyarakat hadir diruang tengah rumah Insoraki. Mereka sedang berbincang-bincang dengan serius tanpa kehadiran Insoraki dan Mananamakrdi.

Ayah Insoraki : "Betapa jijiknya aku dengan Mananamakrdi itu. Aku tak tahan dengan kondisinya yang seperti tiu."
Ibu Insoraki : "Tapi dia telah menikah dengan Insoraki, anak kita."
Pemuka Masyarakat 1 : "Masyarakat disini pun merasakan seperti itu, Tuan. Bahkan beberapa diantara mereka berniat untuk meninggalkan kampung ini."
Pemuka Masyarakat 2 : "Apa sebaiknya kita lakukan hal seperti mereka, kita tinggalkan kampung ini dengan membawa semua ternak dan tanaman milik kita?"
Pemuka Masyarakat 3 : "Tapi apakah itu terlalu kejam bagi Insoraki dan Konori?"
Ibu Insoraki : "Begitu berat meninggalkan putri semata wayangku. Tapi aku pun tak tahan dengan suaminya yang seluruh tubuhnya dipenuhi kudis."
Ayah Insoraki : "Baiklah, besok pagi-pagi sekali kita tinggalkan kampung ini. Beritakan secepatnya ke seluruh penduduk. Dan ingat, jangan sampai berita ini diketahui mereka berdua!"
Pemuka Masyarakat 1, 2 dan 3 : "Baiklah Tuan."

Para pemuka masyarakat pun pergi untuk menyebarkan kabar itu secepat mungkin. Sedangkan orangtua Insoraki pun kembali ke ruangan mereka.


Adegan 10

Setelah ditinggal para penduduk desa bahkan orang tua Insoraki, jadilah kampung itu sepi. Hanya Mananamakrdi, Insoraki dan Konori yang tetap tinggal dikampung itu. Suatu hari, Mananamakrdi mengumpulkan kayu kering, kemudian dibakarnya.

Insoraki : "Hari telah berlalu. Sudah cukup lama para penduduk termasuk orangtua ku meninggalkan kita dikampung ini."
Mananamakrdi : "Engkau harus bersabar. Semua ini mereka lakukan pasti dengan tujuan dan pertimbangan yang berat."

Dilihatnya Mananamakrdi mondar-mandir membawa kayu kering.

Insoraki : "Untuk apa engkau mengumpulkan kayu-kayu kering itu?"
Mananamakrdi : "Aku akan membakarnya."

Lalu dibakarnya lah kayu-kayu kering itu. Tiba-tiba Mananamakrdi melompat ke dalam api. Spontan, Insoraki dan Konori menjerit.

Insoraki : "Mananamakrdi...."
Konori : "Ayah....."

Tak lama kemudian Mananamakrdi keluar dari api denga tubuh yang bersih tanpa kudis. Wjahnya sangat tampan.

Insoraki : "Kamu? Mananamakrdi?"
Mananamakrdi : "Ya, ini aku, Insoraki. Mananamakrdi, suami mu."

Dengan waja h bahagia, mereka bertiga bergandengan tangan.

Mananamakrdi : "Aku, Masren Koreri. Seorang pria yang suci."

Beberapa menit kemudian Mananamakrdi mengheningkan cipat, maka terbentuklah sebuah perahu layar.

Mananamakrdi : "Lihatlah! Sebuah perahu layar. Mari kita berlayar mencari tempat baru. Kita berlayar ke Manduri, daerah terdekat dari Manokwari."


Adegan 11

Pagi-pagi buta di Mandori, Mananamakrdi dan Insoraki sedang membersihkan halaman.

Mananamakrdi : (Sambil membersihkan halaman) "Inilah tempat kita yang baru. Semoga di Mandori ini kita bisa hidup dengan lebih baik."

Di arah barat, Konori yang sedang bermain pasir dipantai, melihat-lihat tanah berbukit-bukit yang amat luas. Semakin lama, kabut tersibak oleh sinar pagi.

Konori : (Bergumam dengan suara pelan) "Indahnya pegunungan itu. Tanah berbukit yang sangat luas. (Tiba-tiba ia berteriak) Ayah.... Irian, Iriaaan...."
 Mananamakrdi : "Hai anakku. Jangan berteriak begitu. Irian. Panas, begitukah maksudmu? Ini tanah nenek moyangmu."
Konori : "Iya ayah. Maksudku, panas mathari telah menghapus kabut pagi. Pemandangan disini indah sekali."
Insoraki : "Begitu indahnya pemandangan ini, suamiku."
Mananamakrdi : "Inilah Irian, air laut yang membiru, pasirnya yang bersih, bukit-bukit yang menghijau."

Konon, sejak saat itu wilayah tersebut disebut dengan nama Irian. Air lau yang membiru, pasirnya yang bersih, bukit-bukit yang menghijau dan burung Cendrawasih yang anggun dan molek. Membuat Irian begitu indah. :)

Jumat, 12 Oktober 2012

TulisanKU

Setiap kali aku menulis, aku bingung, judul apa yang harus ku tuliskan nanti, jika aku telah menyelesaikannya. Aku memiliki cukup banyak kosa kata dipikiranku tapi tak satupun yang bisa kuungkapkan hanya lewat beberapakata untuk judul tulisan ku saja.

Yah, aku biasa menulis. Sejak aku mengenal banyak hal, saat itu kalau tidak salah ketika aku berusia 8 tahun, tangan-tangan kecilku yang tak terbiasa menulis, tetapi ketika aku melihat selembar kertas, aku langsung menulis apapun yang aku rasa dan aku pikirkan. Sejak saat itulah aku menyadari ketertarikan ku dengan sastra.

Walau saat itu tulisan ku sama seperti anak-anak lainnya, tulisan yang kumel, lecek, berantakan, besar-kecil yang tak karuan, tapi dari sanalah, aku mulai memahami tiap goresan tinta yang mulai ku ukirkan diselemabar kertas putih, yang mulai kotor karenabasah tanganku.

Mengingat hal itu, aku tertawa kecil, aku bahagia ketika mengenang tiap detik perjalanan ku menuju sebuah pendewasaan. Aku tahu, semua butuh proses, mungkin karena aku dewasa lebih cepat daripada teman-teman ku kebanyakan. Saat mereka diam atau menangis, aku hanya memperhatikannya, hanya terkaku. Aku tak habis pikir jika aku mengenang saat itu.

Aku tahu ada sesuatu yang telah meranjak dewasa dalam diriku, bahakan ketika usiaku beranjak 12 tahun, aku sudah memikirkan progres masa depan ku ketika aku berusia 20 tahun. Aku terlalu berpikir jauh. Itu yang ku tahu tentang diriku.

Banyak orang yang berkata bahwa diriku sangat sulit dipahami, bahkan sekalipun itu melalui tulisan ku atau sekedar goresan tanda tangan ku saja. Salah satu guru kursus bahasa Inggris ku pernah berkata bahwa ada kepribadian tak pernah bisa diketahui tentang diriku, entah karena sejak aku masuk SMP aku mulai sedikit tertutup dengan pribadi ku, atau karena memang orang-orang tak mengenalku dengan baik.

Aku cukup sulit menyesuaikan diriku pada lingkungan yang kaku. Tulisanku pun saat aku berada di tempat yang mengekangku tak bisa tersusun dengan apik. Aku selalu merasa ada penghambat kata-kata ku. Tapi yang menarik pula, aku bisa berbicara dengan sangat cepat. Bahkan ketika aku disuruh untuk menghafal Pancasila dalam bahasa Inggris, kecepatan berbicara ku sangat jauh di atas rata-rata. Bahkan, jauh diatas orang yang lebih tua usianya diatas ku. Dan ketika kelas Tongue Twister, kecepatan ku dalam membaca kalimat-kalimat yang begitu rumit dalam 5 baris dapat mencapai 5 detik 59". Aku menghargai kemampuanku itu, meski cukup merepotkan ku ketika aku harus membaca untuk banyak orang. Aku membaca seperti kereta api buatan Jepang yang terkenal cepat. Aku harus mengendalikannya agar bisa melaju dengan sempurna.

Kembali ke tulisanku, aku bahagia sekaliiiii.... ketika aku menulis, bagiku ketika aku menulis, selembar kertas itulah yang paling bisa mengerti aku. Selembar kertas itu bagi ku adalah 'Kekasih Hati' ku. Aku mencintai tulisanku. Aku selalu mencoba bereksperimen melalui tulisan ku.

Mulai dari awal pertama aku mencoba menulis puisi (yah, puisilah yang paling sering ku tulis) dengan ksatu bait yang panjangnya hampir satu baris, hingga satu bait yang kata-katanya semakin padat dan bermakna banyak. Sejak aku masuk SMP dan berputar dalam keseharianku sebagai seorang Pramuka, salah satu kakak pelatih ku pun yang bisa ku anggap 'Multi Talent' (walau jika dia tau aku membahas dirinya dia pasti akan membusungkan badannya, haha) mengajarkan ku bagaimana cara menulis puisi atau pun cerita yang menarik. Dan bahkan dia mengajarkan ku cara bereksperimen dengan tulisan puisi yang mengandung banyak rahasia.Aku selalu mengasah kemampuan ku dalam setiap menulis. Memang aku lebih tekun memahami cara menulis puisi ketimbang cerita lainnya. Bagiku puisi itu sebuah rangkaian kehidupan yang lebih banyak maknanya, tanpa harus menjabarkannya satu persatu. Misteri yang akan sangat sulit terbongkar.. ^^
Coba kalau kita ingat-ingat, salah satu seniman 'sastra' dari Indonesia, Chairil Anwar, dia sangat terkenal dengan banyak puisinya yang begitu 'Misteri'. Bahkan beberapa puisi nya pun banyak yang menduga bahwa dia seorang 'Plagiat'. Tapi terlepas dari semuanya, dia seorang seniman sejati. Indonesia harus bangga memiliki putra bangsa yang se-Kreatif dirinya. Yah, aku sering menggunakan kata-kata 'Kreatif' dalam keseharianku.





Salah satu teman dekat ku saat SMP, dia jugalah yang mengenalkan ku tentang puisi. Saat kami baru masuk SMP, aku melihatnya membaca sebuah puisi yang dia buat sendiri, yah, kami satu kelas. Aku cukup terpukau dengan caranya membaca puisi, tidak mendayu-dayu tapi sangat tegas dan menusuk. Karena kami sama-sama anak Pramuka, kami pun dekat, bahkan kami sahabat sejati dan sampai sekarang itu berjalan. Darinya lah aku belajar banyak tentang menulis. Bahkan guru bahasa ku pun mendukung setiap peningkatan ku dalam menulis. Aku bahagia :)) Bagi ku, Puisi adalah Memori Terindah ku. :))

This is My Writting. <3 :* :D

Sintya Atika Putri


Enjoy It