Copyright © SA's World
Design by Dzignine
Tampilkan postingan dengan label Ceritaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ceritaku. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 21 Maret 2015

21 Maret di Tahun Ketiga

21th Maret di tahun ketiga sejak senja kemerahan itu, aku tau semua telah berubah. Sekalipun selalu dia berkata jika dia tak pernah berubah, tapi nyata selalu berkata jujur, semua orang berubah. Semua orang setidaknya menjadi dewasa karena memang kehidupan selalu berputar sesuai hukum alam yang telah lama terpatri.

Malam ini, ku tulis lagi rangkaian kata untuknya, someone in my past, or someone who will come and take me out of my box. Namun entah kapan dia datang (lagi). Atau akankah seseorang mengganti posisinya? Waktu yang mampu menjawabnya. Jika Tuhan memang benar telah menggariskan berbagai lintang kehidupan, manusia hanya bisa berbesar hati. Aku menulis karangan ini lagi, mungkin aku merindukan nya, atau mungkin aku sekadar bosan, setelah hidup tiga tahun tanpa nya, aku kembali menjadi diriku sebelumnya. Menarik diri dari kehidupan dunia yang, menurutku, terlalu bising. Aku yang lalu, aku yang pernah hidup 15 tahun tanpa dia, yang selalu tak peduli bagaimana dunia berputar sehari-hari, berubah setelah mengenal dan lebih dekat dengan nya selama 3 bulan. Entah apa arti 3 bulan itu bagi kehidupan ku yang kini hampir memasuki 19 tahun, tapi someone told me, "your first love was the incredible thing". Aku tak pernah memahami maksudnya hingga aku kehilangannya.
Jumat, 04 Juli 2014

GagasMedia's Winning #11TanpaBatas


Haiiiii, sudah lama sekaleeeeee saya gak nge-post :3 Oke, tepat pada tanggal 4 Juli 2003 yang lalu, lahirlah sebuat publisher yang gak akan pernah kita sangka-sangka akan menjadi salah satu publishing besar dan yang terpenting publishing favorit saya dongse ;)


Yupz, HAPPY BIRTHDAY @gagasmedia yang ke #11TanpaBatas Huaaaaaah, keceeee badai nih! So, dalam rangka menyemarakkan hari jadi nya, tim Gagas Media membuat sebuah games, jadi buat yang berminat, ehem ehem buat yang baca posting-an ini juga boleh deh, bisa ikutan dengan cara seperti di bawah ini:

Tuuuuh, yang udah tertarik dan mau ikutan juga, udah ditunggu loh. Oh iya, ralat, "Kami tunggu!" itu maksudnya ditunggu tim Gagas Media, hoho..

Okeee let's see what i'll do for this game, huaaaaah wish me luck, Bismillah.. :D

Senin, 17 Februari 2014

TEMAN SELAMANYA



(Instrumen)
Sahabat. Bagai tetesan embun pagi yang jatuh membasahi kegersangan hati hingga mampu menyejukkan taman sanubari. Bagai bintang gemintang malam di angkasa raya yang menemani rembulan duka lara hingga mampu menerangi gulita dalam kebersamaan. Bagai pohon rindang dengan ribuan dahan yang memayani terik matahari hingga mampu memberi keteduhan dalam ketentraman. Bagai derasnya hujan yang turun yang menyirami setiap jengkal bumi yang berdebu menahun hingga mampu membersihkan mahkota bunga dan dedaun dalam kesucian.

Selasa, 04 Februari 2014

Kamu Bagiku..

Taukah kamu, ketika bertemu kamu, hal pertama yang aku tau, dunia berputar dengan benar? Taukah kamu, ketika mengenal kamu, hal pertama yang aku pahami, hidup itu seharusnya dibagi? Taukah kamu, ketika mengagumi kamu, hal pertama yang aku mengerti, cinta itu sesungguhnya ada, bukan sekadar dongeng? Taukah kamu, ketika mencintai kamu, hal pertama yang aku baca, ketulusan itu tak meminta imbalan apapun? Taukah kamu, ketika menjalani hidup bersama kamu, hal pertama yang aku ukir adalah namamu? Taukah kamu, saat ini, saat aku berpisah dari kamu, hal pertama yang menghancurkanku adalah merindukanmu?

Semua judul yang ku tulis "Kita" berubah, bahkan beberapa bab harus ku hapus, sekadar meyakini hatiku, "Kita" bukan kata yang benar saat ini. Terkadang hidup itu seperti bayangan, hitam walau di atas kepalamu sungguh terang. Aku percaya tiap kau tersenyum, itu senyum yang dulu kau untai hanya untukku. Tapi ketika aku kembali ke keadaan sadar, aku tau senyum itu bukan milikku lagi. Senyum itu kau bagi untuk setiap orang. Itu adalah saat ini.

Ketika aku tau kau benar-benar menginginkanku pergi, bahkan bukan kau ucapkan langsung padaku, rasa sakit itu tetap nyata, bukan dongeng. Aku begitu egois, menutup semua kenyataan, mengakui alam mimpiku lebih kuat dari pikiran nyataku, mempercayai bahwa hanya akan ada "Kau dan Aku". Nyata nya salah, semua berubah tanpa pernah ku sadari, tanpa pernah bisa ku tahan. Seperti rasamu, berubah tanpa pernah bisa aku hindari.

Jumat, 04 Oktober 2013

Kenangan

Bukan aku yang memulai, bahkan perkenalan itupun terjadi tanpa disengaja. Kau dan Aku, yah, begitulah sekarang. Berapa lama ini terjadi? Berapa tahun telah berlalu? Hingga saat ini benar-benar bukan sekadar mimpiku. Kau, kau benar-benar berubah, menjadi sosok yang paling mengerikan bagiku. Sewaktu-waktu bisa saja kau datang kembali, lalu sekejap pergi, meninggalkanku, mencampakkan ku begitu saja.

Setelah dua tahun berlalu, setelah semua berakhir, setelah tak ada kata Kita, setelah semua berubah, setelah kau benar-benar berhasil pergi, setelah aku benar-benar jatuh dan setelah aku tersungkur dalam kegelapan, tak ada satupun yang mampu ku pikirkan. Tiap aku tersenyum mengapa tak kau balas senyum itu? Tiap kali aku menatapmu lurus, mengapa kau justru menyembunyikan wajahmu? Sebegeitu tak inginkah kau bertemu denganku, bahkan sekadar untuk menoleh sedikit padaku? Sebegitu hina-nya kah aku bagimu?
Jumat, 05 Juli 2013

Arti Dirimu

Aku tau memilikimu indah, aku pun tau mencintaimu bahagia, bahkan aku tau dicintaimu juga mengharukan. Tapi aku pun tau melihatnya mampu menyentuhku, berdiri di sampingnya menghangatkan, bahkan akupun tau bagaimana dilemanya hatiku saat tiba-tiba dia hadir di hidupku. Menyelinap masuk lalu memenuhi hari ku yang mulai kering tanpa cintamu.

Aku lelah menantimu, tapi tak jera menunggumu. Aku sadar hadirnya dan tak siap menyambutnya. Karena masih ada kamu. Masih ada dirimu yang terus membayangi hariku, seolah tak rela jika kini kau harus sendiri. Aku tau rasa sulit ini menderapku. Rasa kebimbanganpun menimpaku. Tapi, jujur saja, hati ku hanya untukmu, bahkan hingga saat ini aku di persimpangan, satu hatiku, seutuhnya, milikmu.

Aku bukan yang terbaik, sempurna dan terindah. Hanya saja untukmu, aku berusaha menjadi yang terbaik, sempurna dan terindah, untuk cintamu. Walau terselip juga doa untuknya, dia yang menyaingimu di hatiku. Yah, sekilas di hatiku saja, mungkin tidak untuknya.

Sabtu, 29 Juni 2013

Setengah Cinta

Aku masih rindu padamu, aku masih sayang padamu, meski kini cintamu bukan aku... (Yovie and Nuno-Mengejar Mimpi)

Bukan aku yang selalu terbayang di hidupmu, ternyata. Bukan aku yang selalu menjagamu, ternyata. Bukan aku yang selalu menghampirimu, ternyata. Bukan aku yang selalu menjadi alasanmu tersenyum, ternyata. Bukan aku yang selalu mengisi setiap kekosongan hatimu, ternyata. Dan bukan pula aku, ternyata, yang selalu dicintaimu.

Setelah setiap kenangan menguap di hati dan pikiranmu, aku merasa apa itu cinta sesungguhnya. Setelah kau mulai berlari kearah yang bukan aku, aku baru merasa kau itu lebih dari indah. Bahkan setelah seseorang itu dipergunjingkan mereka mencintaimu pula, aku merasa betapa berharganya seorang Kau di hidupku.

Andai aku lebih perasa, andai aku lebih memerhatikan dan andai pula aku lebih memberikan mu perhatian lebih, apa mungkin 'perpisahan' itu terjadi? Aku tak tau harus apa, lebih dari setiap gerakmu ku ikuti, lebih dari apa yang kau tau tentang dirimu pun, aku tau. Aku mengenalmu sangat baik, aku mengenalmu bahkan lebih dari aku mengenal diriku sendiri.

Rabu, 20 Februari 2013

Mengingatmu itu LUKA

Berita pagi ini cukup mengenyangkanku.. Oh tidak, aku baru ingat! Setelah semalam aku mendengar kabar kembalinya kau ke tempat ini, aku tak habis-habisnya melantur. Melanturkan setiap kata yang indah, yang kelak akan jadi kenyataan terindah atau bahkan mimpi terburuk yang pernah aku gantungi.

Aku tau kini sulit, memilih sekian lama hal yang telah terlalui. Aku melangkah terlampau lebar, hingga akhirnya aku terbangun dalam dentuman kencang detak jantung yang bergebu. Aku memohon, jika kelak Tuhan berikan ku jalan terindah menuju cinta, aku harap itu kamu. KAMU.

Tolong, tolong perjelas kehadiranmu kali ini. Di ruangan ini. Ruang Hatiku. Aku tak banyak berharap, hanya saja terlalu banyak memohon, padahal kehendak hati tak pernah bisa tercapai.
Minggu, 25 November 2012

Ruahan Hujan

Langit menjatuhkan tiap buliran yang ku tau namanya Hujan. Oh ya, seingatku tiap kali hujan berakhir akan datang pelangi namun tak lama. Sekedar menghiasi langit yang baru selesai menangisi sesuatu, entah tangis bahagia atau justru kesedihan mampir dihidupnya. Tapi itulah pelangi. Dia begitu indah namun, cintanya tak bertahan lama lalu pergi ketempat yang lain. Satu lagi yang identik dengan hujan. Sebelum kedatangannya yang menumpahkan butiran air ke tanah bumi, selalu saja ada awan hitam pekat yang menggelantung di wajahnya. Awan yang selalu menerpa langit untuk sekedar datang lalu membuatnya menangis.

Siapapun yang melihat awan hitam pekat itu pasti akan pergi menjauhinya. Aku pikir itu kesedihan. Siapapun dan apapun akan menjauhinya. Aku tak yakin alasan mereka menjauhi awan hitam itu. Tapi mungkin jika awan itu bisa memilih, pasti dia memilih jadi awan putih dilangit yang menandakan kebahagiaan untuk setiap orang. Awan hitam pekat itu terpilih sebahagi pembawa kesedihan untuk langit. Dia harus mengeluarkan gemuruhnya, petir yang disertai kilatan cahaya dan suara yang mengerikan. Awan itu harus tetap mejadi seperti itu.

Jumat, 23 November 2012

Kerangka Cinta

Aku tak mengerti apa yang terjadi selama ini. Aku tak paham. Ini kali pertama aku merasakan hal yang terlalu bergelora didadaku. Hingga memenuhi tiap sudut yang ada di hatiku. Kau yang membuatku merasakan hal ini. Maka aku mohon, kau bertanggung jawab atas kepekaanku ini terhadap Cinta yang selama ini aku dengar dari temanku. Coba kau jelaskan padaku, mengapa rasa ini datang dan singgah didiriku? Aku tak pernah berniat membuka hati pada siapapun. Bukan aku tak normal. Hanya saja bagiku, usia yang terlalu remaja untuk mempelajari makna cinta itu. Aku terlalu muda untuk merasakan hal yang membuat orang mabuk kepayang itu.

Tapi, entah mengapa kau selalu sanggup menghidupi bahkan membuat bunga di pertamanan hatiku mekar dengan sempurna. Mereka hidup dengan cahaya yang selalu menuntunku dalam suasana yang sejuk. Cahaya itupun tak terlalu menyilaukanku. Buktinya: aku tetap bisa berjalan di pertamanan itu. Kau beri pupuk kepercayaan diatasnya, seolah kau mengerti betapa aku butuh rasa percaya yang tinggi. Bukannya aku tak percaya diri. Hanya saja aku tak begitu mengenal Cinta. Bahkan aku tak tau Cinta itu apa atau siapa. Aku percaya saja padamu. Aku anggukan semua permintaan hatiku, padahal aku tau pikiran ku belum merestui adanya rasa ini.

Sabtu, 17 November 2012

Katamu...

Mengapa tak kau patahkan saja sebelah sayap ku ini?
Sekalian saja kau injak keduanya
Kau puaskan saja apa yang selalu kau inginkan
Kau hancurkan aku saja
Ketimbang kau bunuh aku perlahan
Membuatku merasa sakit menahan
Kau begitu licik
Jumat, 16 November 2012

Senja di Ujung Sana

Tak ku sangka, hati yang tadinya ceria kini justru tersendak tangisan yang mulai mengering pecah. Setauku kemarin aku masih berdiri tegak menghadap hal yang selalu aku banggakan. CINTA. Tapi mengapa kini kamarku berbalut duka. Padahal ini senja. Ada pertunjukan indah dilangit sana. Ada warna merah kejinggaan yang mengalut bersatu dengan matahari diujung yang memperindah bayangan siapapun yang berdiri didepannya. Seperti film romantis itu. Tapi terlambat. Senja hari ini turun perlahan tanpa senyum diwajahku. Dia pergi tanpa sekejap pun berbalik arah menggapai tanganku.

Aku sudah bayangkan, ada bendera kuning tapi didepan kamarku. Bertanda bahwa si empunya sedang berduka, kehilangan seseorang yang dia sayangi. Aku memang berduka. Tapi bukan kematian. Aku berduka. Hatiku tersayat habis. Nganga disini. Yah, coba kau rasakan. Kau rasakan tiap irama yang menari disitu, tepat didadaku. Aku tak sanggup menutup nganga itu sendiri tanpa mu, Sutrisno Handoko. Aku tak mempunyai kekuatan super untuk membendung air bah yang mengalir dari pelipis mataku. Aku tak sanggup menahan gempuran benderu perang antara hati dan pikiranku.

Kamis, 15 November 2012

Rumpangan Hati

Pagi ini aku terbangun dari mimpi yang menjadi pilihanku....
Andai Kau lebih peka pada rasaku, andai Kau lebih mendalam merasakan rasa yang hanya kucurahkan untukmu. Mengapa "Andai"? Doa ku mulai mengering. Aku mulai mengikhlaskan kepakuanmu padaku. Keterdiamanmu membuatku tak habis pikir. Akankah cinta itu masih bersemayam direlungmu? Akankah cinta suci yang Kau umbar pada mereka dahulu tentang Kita masih berada pada kesuciannya? Atau itu hanya masa lalu? Atau mungkin itu hanya sekedar cinta pertama yang tak berakhir indah? Mungkinkah juga Kau anggap itu cerita perjalananmu yang hanya akan jadi kenangan termanis? Aku tak tau, tak akan pernah tau. Hanya Kau yang memiliki semua jawaban atas pertanyaan ku itu.

Cerita padaku tentang rasamu. Katakan padaku, Aku ini Kau anggap apa? Kau selalu membuat ku bingung. Aku bukanlah peramal yang bisa membaca masa depan Kita. Aku bukanlah seorang pembaca pikiran yang mampu membaca sifatmu hanya dari gerak-gerikmu. Tuhan tak berikan setiap kelebihan itu padaku. Tuhan hanya memberikan anugerah-Nya padaku tentang cinta pertama, yaitu KAU.

Kali ini Aku tersadar. Mengapa Kau membuat ku mengartikan semua ini sendiri? Kau tak ingin Aku menyadari bahwa Kau tak benar-benar bersungguh-sungguh tentang rasa yang Kau beri dulu, Aku menerka. Tapi ada yang lain. Maksudku maaf... Seorang disampingmu, yah, temanmu.. Dia yang hampir setiap orang berucap jika Dia begitu persis denganmu. Tapi mengapa ada yang berbeda antara Kau dan Dia. Coba Kau ingat, Dia memang sama sepertimu, kalian begitu membingungkanku. Bagi kalian "Diam itu Emas". Itulah yang membuatku semakin mencuri perhatian ku pada sosok yang ada disampingmu. Maafkan Aku...

Aku ingat kali pertama Aku dan Dia berkenalan, atau paling tidak mulai berucap satu sama lain. Ketika itu temanku mencari seorang yang bisa membantunya untuk menyelesaikan tugas matematikanya, hingga akhirnya temanku mencari Dia... Dan Kau tau lagi? Dia benar-benar masuk ke kelasku. Hari itu Kau sedang tak ada disekolah. Kau sedang pergi untuk mengerjakan sesuatu tentang organisasi yang kini Kau pimpin. Disitulah mulai Aku merasa bahwa sebenarnya Kau dengannya cukup berbeda, tidak persis seperti kata mereka.

Dia dengan cekatan mengajarkan temanku tentang soal matematika yang bahkan soalnya saja telah membuat ku tak bisa berpikir jernih. Aku paham dengan soal-soal matematika tapi jika harus membayangkan sebuah bangunan dimensi tiga dengan kemiringan tiang seperti itu hanya membuat ku pusing tujuh keliling. Tapi Dia, yah, Dia mengerti. Aku tau apa yang tak ku mengerti sebenarnya dia pahami dengan baik. Aku mulai menyukai caranya berpikir logis. Dan tak kalah bijaksana dari dirimu. Dirimu? Berulang kali dalam satu meja yang dikelilingi 3 kursi, yaitu milikku, temanku dan Dia, Aku terus saja membanding-bandingkan Dirimu dan Dirinya.. Hahahah... Dia atau Dirimu? Semakin Aku tak mengerti dengan rasa yang bergejolak dalam relungku.

Hingga akhirnya Aku memberanikan diri untuk bertanya padanya tentang soal itu. Yang mengagetkan ku, Dia benar-benar menjelaskan dengan detail padaku. Parahnya, Dia benar-benar berbeda dengan Kau. Kau yang selalu tak pernah berani atau mungkin hanya sesekali menatap mataku saat Kita berbicara, tapi Dia benar-benar menjelaskan dengan begitu menunjukkan sikap hormatnya pada seorang perempuan. Matanya tak berhenti berbicara padaku, katanya "Seorang wanita harus selalu dihormati, betapa mulianya wanita yang begitu berjasa bagi keluarganya.", matanya bercerita banyak padaku. Hal yang tak pernah bisa kudapat darimu yang terlalu diam. Bahkan Aku ingat saat Aku bertanya padamu, benar-benar diluar kendaliku, Kau tak merespon ku. Padahal dalam situasi seperti itu, hanya ada Kau dan Aku, seharusnya Kau bisa lebih santai untuk menjawab pertanyaan basa-basi ku, tapi ini tidak. Bahkan temanku yang melihat tingkahmu padaku itu mendekati kita dan langsung menegurmu. Aku benar-benar kecewa dengan sikapmu itu. Apakah itu yang Kau ceritakan tentang cinta? Sejak saat itulah Aku mulai mempertanyakan setiap kata cinta yang Kau ucap.

Dia benar berbeda dengan Kau. Hingga saat ini, saat Kau tak pernah ada disampingku, Aku selalu memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya. Terlebih lagi kisah kita yang sudah berakhir membuatnya merasa tak bersalah dengan pertemuan yang terkadang tak pernah kami duga. Walau terkadang justru Aku yang merasa bersalah karena Akupun masih mencintaimu seperti halnya dengan mu yang tak pernah bisa melupakan ku, yang bahkan masih berniat untuk kembali lagi bersama. Tapi bukankah semua telah berakhir?

Aku merasa lebih nyaman dengannya, jujur. Aku takut menyakitimu, selalu saja Aku ingkari rasa itu. Tapi sampai saat ini Aku tak tau apa rasanya padaku. Dia hanya memberikan perlakuan berbeda padaku, rasa segan yang begitu lembut. Mungkin karena temannya, Kau, mencintaiku atau karena ada yang rasa yang lain yang sama sepertiku? Aku tak benar-benar berani membayangkan rasa-rasa itu. Semua hanya akan kubiarkan waktu yang menjawabnya. Jika Kau tak mampu menjawabnya dan Diapun tak berani berucap, Aku tau jalan terkhir yang Tuhan berikan hanyalah Waktu...


Mengangkuhkan rasa hanya akan membuatku bertindak bodoh
Begitu nanti tiba saat yanag tak terduga
Tuhan akan mengerti dengan apa yang selau kita sebut "CINTA"
Kamis, 25 Oktober 2012

Tak Ragu, Cinta...

Aku tak pernah ragu...
Kau tahu, malam itu, ku katakan terkadang aku ragu, aku hanya ingin kau selalu meyakinkanku, sepenuh hatimu. Ketulusanmu itu yang akhirnya memaksa ku untuk memaksamu. Aku menjauh bukan untuk menghindarimu. Aku butuh waktu untuk mempertimbangkan setiap kata yang harus ku eja ketika bertemu dengan mu.

Aku menyusun setiap kepingan memori itu aku kumpulkan, hingga akhirnya dengan penuh semangat aku satukan kembali dengan perekat super agar aku bisa mengumpulkan lagi tiap kepingan itu menjadi sebuah kekuatan. Agar aku bisa menjadi dewasa, hingga akhirnya aku bisa berlaku layaknya anak-anak yang tanpa ragu berucap. Tapi aku sungguh, aku akan ucapkan itu, sebuah kata kejujuran yang dulu pun pernah aku ucapkan. Aku ingin meggores tinta suci lagi di tiap lembaran hatimu. Agar aku bisa damai ketika berada cukup jauh dari sisimu.

Aku ingin setiap hembusan nafasmu pun berarti Aku. Berarti bahwa aku yang selalu dan akan selalu bersama mu. Selalu menorehkan setiap senyum didinding hatimu itu. Aku ingin kau benar-benar berpikir saat ini. Peganglah dadamu, tutup matamu, rasakan setiap desiran yang terlintas. Tanyakan baik-baik. "Apakah nama ku yang terngiang indah didalam sana?". Ingin rasanya kau cepat sadari itu kembali. Mengulang itu memang tak semudah yang pernah kita lakukan dari awal. Tapi dengan mengulang kita bisa mengkoreksi apa yang salah dalam semua ini, selama ini.

Satu tahun lalu, tepat dihari yang sama. Kau pernah berucap, kau meminta maaf padaku, kau ingin kita benar-benar utuh. Akupun meringis nyeri didadaku. Betapa semua kata-katamu itu membuah gelitikan kecil diperutku. Mendesirkan darah yang mengalir selama ini. Kau begitu tulus meminta maaf. Tak tahan rasaku, ku anggukkan kecil kepala ku tanda bahwa aku menuruti kemauanmu itu.

Saat itu, andai waktu tau, aku ingin dia berhenti memutar rodanya, agar hanya ada aku dan kau yang bersama melangkah. Tapi, keegoisan sang waktu yang akhirnya tetap memutar roda itu. Hingga aku terjatuh saat itu. Ringisan ku setiap malam pun seolah tak terdengar oleh sang bulan. Yah Sang Bulan... Mengingat itu, aku pun teringat dirimu lagi.

"Kau tau, kau bagai bulan yang menerangi bumi. Tanpa cahayamu tak akan terang hati ini." Saat ini, kata-kata itu hanya menjadi pengingat ku saat aku sadar kau benar-benar berlalu. Saat aku sadar ketika aku harus mulai berusaha melangkah. Tapi yang tak habis ku pikirkan. Kau selalu melarangku untuk beranjak dari zona aman cintamu. Kau melarangku untuk pergi meninggalkan singgasana cintamu. Aku tak habis pikir dengan keputusanmu itu. Ktika aku ingin terlepas dari bayangmu, kau larang aku. Lagi-lagi, kubiarkan hatiku menang. Ku kalahkan semua keinginanku semula. Aku balas, "Aku akan tetap denganmu. Tak usah kau meragu." Bodohkah diriku?

Ku akui kau Cinta Pertamaku, Kau Kekasih Pertamaku, tapi harus kah aku bertindak bodoh seperti ini? Aku tak tahu. Aku benar-benar menginginkamu. Aku ingin kau berubah. Berhenti mengutak-atik hatiku dengan tanganmu yang keras itu. Aku ingin kelembutan hatimu. Aku ingin kita tetap dengan kepercayaan hati. Aku ingin kita tetap selalu KITA. Yah, kita.... Kau dan Aku, just it.

Malam kemarinpun, kau kembali meyakinkanku. Kau berkata, "Kalau Cinta, kamu ragu gak?"... Aku terbelalak. Membaca pesan yang menggetarkan ponselku. Bahkan virusnya sesegera mungkin menyerang ku yang tak berbenteng apapun. Jelas aku berkata dengan berdetak, "Terkadang. Tergantung keadaannya, kamu?" Detik selanjutnya, ponselku bercahaya kembali, ku baca dan ku tahu. Itu pesan dari temanku. Ya Tuhan, kupikir.... Setelah kubalas pesan temanku, cahaya ponselku kembali benderang, kubaca, "Ngikut aja deh :)" Kau tau, aku ingin kau pun berkata dengan kata-katamu sendiri, "Gak boleh ngikut-ngikut, cowok tuh harus punya prinsip. :p" Setelah ku tekan tombol kirim lalu laporan terkirim pun muncul di layar ponselku. Tak lama, "Oh, gitu ya. Jd gak boleh ikut2 ?" Hahaha, tertawa aku dihatiku... Betapa kau mulai mencoba mencairkan suasana, "Tentunya. Cowok harus berpendirian dan punya prinsip." Lalu balasan segera menyambar ponselku kembali, begitu sigap kau mengetik setiap kata di ponselmu, hingga begitu cepat terkirim di ponselku, "Ok. Ia kagak ragu :)"

Yeah.... Kau sukses meyakinkan ku malam itu, bahkan hingga detik ini. Aku mempercayaimu dengan sejuta tanya yang terlontar oleh pikiranku. Saat ini hanya aku yang berharap atau kau juga? Entahlah.... Aku mencoba bergerak untuk berlomba dengan pikiranku. Aku pun menyeimbangi hatiku. Teman ku mendukung yang terbaik untukku.

Kali ini kau harus tau. Aku tetap duduk disinggasana mu. Kau bayangkan, hanya karena pesan yang ada didalam ponselku, yang bertuliskan pengirim, nomormu...

Bersamamu aku bisa melewati itu...
(D'Massiv - Natural)
Kamis, 18 Oktober 2012

Jurnal 03 I miss....

I want our first story...
I wanna talk with you 'bout my day after a long time you left me alone.....
I wanna be with you again.. Oh my God, that's just my dream...
Thought i doubt if it will happen.. (almost impossible) ....
I know how disappointed you are to me. I do too..
If you know, my heart and mind are fighting it out....
I even can't differentiate between love and hate as if no other alter in my soul....
Until finally, i could go back and as soon as possible realized everything..
I hope you understand all of this....
I know i am only your shadow...
And i never be your really one...
Coz' of that, i try to be your shadow... ONLY your SHADOW...
I just know that miracle will come even you want...
And it's time to come... Miracle...., I hope you show your really miracle...

I've never felt this way before...
Everything that I do, reminds me of you....
(Avril Lavigne - When You're Gone)
Rabu, 17 Oktober 2012

Jurnal 02 "The meaning of Happiness for Me"

I'm so fragile. You know, every time I opened my eyes, only you crossed my mind. In fact, this morning was the first time you are present in my life. I mean it was made crazy by you. I can not distinguish which one is good for me and which will drop me.

If you know, what you have seen so far is just farce myself. I just want a little free myself from you. I almost died was made ​​by you. So many of my suffering I have to endure alone. Even my hands tells the life of suffering.

Earlier, the first time I've known you, I'm happy. Until you finally decided to go. It was then that I fell. I fell into a bottomless pit. I dreamed and continue to dream of my life before. My life is full of beautiful dreams. A happy life because of you. But now just a big dream I had to go back to the days like that. I was devastated. Although you do not know ..

Well .. that's what I always wanted. I want when I'm devastated, just devastated me alone, just me alone. I do not want to bring the people I love down with me. They have a right to happiness. Maybe it's destiny that God has outlined to me. I have received during their happy.

No need to worry about me, I'll calm down when you are happy ... Keep smiling, because if you smile, I'm so happy ...


And then a hero comes along with the strenght to carry on
(Mariah Carey: Hero)
Senin, 15 Oktober 2012

Jurnal 01 Wajahmu "Sesuatu"

Ini kali pertamaku membuat sebuah.. yah, mungkin diary elektronik. Hehehe... ^^
Inspirasinya dari salah satu novel yang sudah ku baca baru beberapa hari yang lalu...

Hari ini, hari pertama UTS yah di sekolah ku, padahal SMA lain yang ada di daerah sekitar kami sudah melaksanakannya seminggu yang lalu.
Setelah malam minggu kemarin saya sakit dan dibawa ke dokter keluarga, ternyata saya memiliki daftar kelam kesehatan lagi. Penyakit Vertigo. Yah, seperti yang sudah ku post tadi, Vertigo adalah gangguan saraf, yang berhubungan dengan keseimbangan. Penyebabnya sih, kata Bu dokternya kecapekan ditambah banyak pikiran. Memang belakang ini, aku terlalu banyak pikiran, banyak masalah, yah begitulah.

Balik lagi ke hari ini... Jadwal hari ini kami harus UTS siang hari... Ya ampun, siang? Damn.... Ngantuk beudsssss.. (ala-ala 4Lay gitu) hehhe... Jadwal pertama FISIKA... benar-benar menguras pikiran... Udah panas, kepala pecah pula mikirinnya, belajar sih iya, tapi masalahnya, soalnya gak masuk akal banget...... Kesimpulan: dari 8 soal cuma bisa ngisi 5 soal (berharap bener semua, AMIIIIIINNNN...)
Jam kedua. setelah istirahat sekitar 15 menit... BIOLOGI... pelajaran andalan ku sejak SMP.. benar sekali. Semua bisa terisi (walau ragu) setidaknya tidak lebih parah dari yang fisika tadi.
Jam ketiga, berhubung aku sudah selesai dgn biologi, aku yang pertama mengumpulkan lembaran ku... Ya Allah.... langsung TIK... AMAZING... soalnya WAW..... cukup bisa menyelesaikannya, hanya satu soal bersisa.. Alhamdulillah. Hari ini kesan pertama nya GAK BANGET...

Selesai UTS, seperti biasa, duduk-duduk dulu bareng temen-temen. Pas udah mau pulang, keluar pagar sekolah, gak sengaja noleh ke kanan, eh ada si "ehem". Waw, dia duduk ngarah ke luar pagar. Males sih liat dia, tapi aku juga sedikit rindu, apalagi dengan senyumnya itu, sejak kelas 10 memang aku mengagumi senyum kesabaran dan keikhlasannya. Tapi mengapa harus hari ini aku melihat wajahnya?
Saat ini kondisiku sangat labil. Pikiran mumet... Vertigo yang terus menekan. Dan akhirnya terpikir dirinya... Sudah dipertengahan perjalanan pulang, terbayang lagi wajahnya yang samar (karena aku melihatnya dari samping dengan jarak yang cukup jauh), tapi walau samar cukup membuat vertigo ku semakin parah. Alhasil, bawaan mau muntah ditambah pusing mampir juga.... Sedihhh... Aku mendambakan untuk sekedar melihat mu saja, tapi Wajahmu "Sesuatu". Semakin menekan rasa nyeri di dadaku. Aku bahagia dengan menahan rasa sakit disekujur tubuhku...

Damn... Damn... Damn...
What I'd do to have you Here...
(Avril Lavigne: Wish You Were Here)

Enjoy It