Copyright © SA's World
Design by Dzignine
Minggu, 25 November 2012

Ruahan Hujan

Langit menjatuhkan tiap buliran yang ku tau namanya Hujan. Oh ya, seingatku tiap kali hujan berakhir akan datang pelangi namun tak lama. Sekedar menghiasi langit yang baru selesai menangisi sesuatu, entah tangis bahagia atau justru kesedihan mampir dihidupnya. Tapi itulah pelangi. Dia begitu indah namun, cintanya tak bertahan lama lalu pergi ketempat yang lain. Satu lagi yang identik dengan hujan. Sebelum kedatangannya yang menumpahkan butiran air ke tanah bumi, selalu saja ada awan hitam pekat yang menggelantung di wajahnya. Awan yang selalu menerpa langit untuk sekedar datang lalu membuatnya menangis.

Siapapun yang melihat awan hitam pekat itu pasti akan pergi menjauhinya. Aku pikir itu kesedihan. Siapapun dan apapun akan menjauhinya. Aku tak yakin alasan mereka menjauhi awan hitam itu. Tapi mungkin jika awan itu bisa memilih, pasti dia memilih jadi awan putih dilangit yang menandakan kebahagiaan untuk setiap orang. Awan hitam pekat itu terpilih sebahagi pembawa kesedihan untuk langit. Dia harus mengeluarkan gemuruhnya, petir yang disertai kilatan cahaya dan suara yang mengerikan. Awan itu harus tetap mejadi seperti itu.

Jumat, 23 November 2012

Kerangka Cinta

Aku tak mengerti apa yang terjadi selama ini. Aku tak paham. Ini kali pertama aku merasakan hal yang terlalu bergelora didadaku. Hingga memenuhi tiap sudut yang ada di hatiku. Kau yang membuatku merasakan hal ini. Maka aku mohon, kau bertanggung jawab atas kepekaanku ini terhadap Cinta yang selama ini aku dengar dari temanku. Coba kau jelaskan padaku, mengapa rasa ini datang dan singgah didiriku? Aku tak pernah berniat membuka hati pada siapapun. Bukan aku tak normal. Hanya saja bagiku, usia yang terlalu remaja untuk mempelajari makna cinta itu. Aku terlalu muda untuk merasakan hal yang membuat orang mabuk kepayang itu.

Tapi, entah mengapa kau selalu sanggup menghidupi bahkan membuat bunga di pertamanan hatiku mekar dengan sempurna. Mereka hidup dengan cahaya yang selalu menuntunku dalam suasana yang sejuk. Cahaya itupun tak terlalu menyilaukanku. Buktinya: aku tetap bisa berjalan di pertamanan itu. Kau beri pupuk kepercayaan diatasnya, seolah kau mengerti betapa aku butuh rasa percaya yang tinggi. Bukannya aku tak percaya diri. Hanya saja aku tak begitu mengenal Cinta. Bahkan aku tak tau Cinta itu apa atau siapa. Aku percaya saja padamu. Aku anggukan semua permintaan hatiku, padahal aku tau pikiran ku belum merestui adanya rasa ini.

Minggu, 18 November 2012

Kelabu Dirimu

Dengan rasa yang menggebu..
Memberikan tiap rasa yang kucecap saat itu

Menikmati tiap rasa yang ku sadari
Itu pertama kali ku kecup

Lembayung senja yang meneduhkan tatapan matamu
Tiap kali menggoda dengan setiap yang tubrukannya

Mata yang tak pernah habis ku cerna
Ingin ku menghardiknya
Dengan setiap cemoohan yang membakar

Namun na'as, tiap jengkalnya
Hanya ku biarkan mengapung tanpa perlu meledak

Melangkah demi tahap
Yang ku tau
Hati ku gerah dengan langkahnya

Takkah kau coba untuk menatapku balik?
Lupakanlah keluhmu saat bersamaku
Mentari membiarkan rasa itu bersemayam

Biarkan tiap ragumu melayang ke udara
Mengangkasa hingga terbang jauh
Menyisakan "Kau dan Aku"

Takkah kau coba menjawabku?
Coba jelaskan tiap ragu yang mengepungku tiap malam
Seolah siang cepat berlalu

Hanya sekedar memikirkanmu saja aku gila
Bagaimana jika nantinya kau benar hilang?

Takkah kau coba terangkan padaku?
Situasi dingin yang membelengu kita
Yang selalu mendekapku dalam kesurauan

Suram yang tak terbalas hingga menyaksikanku menjauh
Aku yang tak kembali
Atau kau yang melupakanku

Aku tak pernah benar melupakanmu
Yah, memang tak ada satupun yang bisa kulupakan

Jelas saja
Semua itu menyiksaku
Membuat lembaran hidupku terlalu suram
Yang akan menyiksaku dalam kegelapan
Tanpa batas rasa iba...

Enjoy It